Laman

12 Okt 2013

Euforia Karantina



I still feel the wind which washed over my body. I still hear the sound of trumpets, drums, and strings. I still remember how everybody sing along together. I still feel the pillow which is so uncomfortable but took me to a sweet dream. I still hear the laughing voices to every jokes we made. I still remember how we stay awake at night. I remember the voices of the most patience mentors. I remember when we talked with new people, and making new friends. I even remember the last day, when we refused to go home.

Ya, euforia. Setelah adik saya mencoba membunuh kami berdua  dengan menerbangkan motornya ketika ada polisi tidur, saya langsung keluar kalimat kalimat yang sejujurnya saya ga ngerti artinya apa.
26 September 2013, hari Kamis, tepatnya, saya dan Swarna Gita 39 menjadi salah satu sekolah yang paduan suaranya dipilih untuk bernyanyi pada upacara Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya—yang tentunya disaksikan langsung oleh presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Dan pada hari itu, kami dikirim untuk…………….karantina 5 hari!!!! Apa artinya? DISPENSASI!!!!!!!!!!!!!!

Makin bego dah abis dispen tiga kali kemaren. Pak Gusriwan, guru Kimia saya, kayaknya sampe shalawatan gara-gara saya, Monic, dan Chandra ga ngerti apa-apa. 

Pada kesempatan yang tidak berbahagia ini (karena saya eksperimen memasak ternyata fail total), saya akan berbagi kisah saya yang gabakal saya lupain tentang karantina di Padepokan Pencak Silat.



Kamis, 26 September 2013.

    Pagi-pagi itu, saya harus tahan malu karena membawa koper warna oranye ke sekolah. Kemudian saya titipkan di ruang piket yang ternyata udah banyak koper yang lebih gede daripada punya saya. Ada yang bawa koper kayak udah mau kemping 2 bulan. Saya juga sempet ngeliat alat pancing.
Setelah itu, saya masuk kedalam kelas, dan mengikuti tadarus, kemudian nontonin restak Biologi oleh Bu Welly, yang hokinya, saya ga disuruh maju saat itu. Ahay.

Kemudian setelah pelajaran Bu Welly, saya dan Monic langsung cao kebawah ketika Tika masuk untuk meletakkan surat dispen. Rasanya enak ga belajar TIK pagi itu. Karena saya ga ngerti dan….belum ngumpulin tugas :I.

Yak, setelah itu, kami berkumpul didepan ruang wakasek. Like a boss, bro. Karena Tika masih menerbangkan surat-surat dispen menggunakan merpati, jadi yang udah ngumpul akhirnya jalan jalan dulu. Ke kantin, koprasi, ada juga yang mijetin wali kelasnya di kantor guru.

Nah, setelah selesai melakukan aktivitas masing-masing, kami berkumpul sebentar didepan mobil-mobil yang akan mengangkut kami ke Padepokan.  Tadinya, ribet banget sumpah. Ada yang kopernya kegedean gabisa masuk, ada yang orangnya gamuat didalem mobil, ada juga yang ngotot mau jalan kaki. Kita bingung dan gundah. Untungnya ada Bunda Wati, yang dengan setia menemani kami selama karantina 5 hari.

Dan sebelum kami berangkat, seperti biasa kami berdoa terlebih dahulu. Setelah itu kami tos bareng-bareng.

Biasanya sebelum lomba, Kak David akan teriak “Swarna Gita………………..?” dan kami menyahut “SUKSES!” atau “BRAVO!” atau versi Mas Adji, “BERNYANYI UNTUK SENI!”

Tapi karena Kak David lagi ngeblank, jadi kami disuruh teriak “NGINEP!” oke. Kami langsung cao kesana.

Perjalanan ga memakan waktu terlalu lama, kami cepet sampe. Dan kemudian kami ngeluarin koper masing masing dan membawanya masuk ke padepokan. Setelah diberikan kunci masing-masing, akhirnya saya sekamar sama keempat orang boyot ini ; Tika, Eryn, Marles, dan Monic. Kami di kamar 334, di kamar sebelah, yaitu 336, ada kak Rizka, kak Aul, kak Nina, dan Hani, yang setiap harinya selalu numpang pipis karena toiletnya gabisa diflush, dan kamar 332 ada adik adik kelas yang selalu delivery makanan. Dan ga lupa kamar 330, kamar Rizka dkk yang bersih penuh kedamaian. Beda ama kamar saya yang banyak barang-barang Monic dan Marles dimana mana.

Setelah naro koper, kami langsung ke ruang serbaguna. Nah disana dengerin panitia ngomong gitu, terus dikenalin sama pelatihnya, yaitu Pak Agus dan Bu Indri. Setelah itu, banyak sekali pidato yang harus didengarkan sehingga mata saya mulai mengantuk. 

Dan pada akhirnya berdoa.

Dengan khusyuknya saya menundukkan kepala saya dan memejamkan mata saya, mendengarkan doa yang disampaikan, dan mengaminkannya dalam mimpi indah saya.

Nah, setelah Ishoma, kami kembali lagi ke aula, dan langsung latihan bersama Pak Agus, yang diawali dengan humming, dan diiringi oleh Bu Indri pake keyboard. Kemudian setelah pemanasan, kami langsung membahas lagu-lagu  yang kita akan nyanyikan tanggal 1 Oktober nanti. Dan ada 7 lagu…………..aransemennya beda. Jadi harus dikulik kulik lagi.

 Kemudian kami mengelompok sesuai suara SATB. Dan seperti biasa sebelah saya TIKAAAAAAAAA yang hobinya bikin suara sendiri.

Misalnya, kita lagi nyanyi Tanah Tumpah Darahku bagian awalannya. Tiba-tiba suaranya beda sendiri, lebih tinggi dari Sopran.

“Lu ngapain sih tik?”

“Bikin suara sendiri mir.”

Anti mainstream.

Dan pada akhirnya hari itu belajar semua lagu dituntasin dulu, pertama tama kita ngulik benar atau salahnya not itu. Walaupun lagu SBY yang telah diaransemen itu baru dapet setengah halaman, tapi yang lainnya udah terbilang hatam dan dilanjutin besok pagi.

 Latihan selesai jam 6 sore kurang, seperti yang dijadwalkan.

Malam harinya, kami langsung tidur-tiduran di kamar. Sementara Marles ribet sendiri nge whatsappin anak anak buat rapat STAK di kamar 334. Pada akhirnya, kami kena omel Mas Bayu—atau lebih ‘akrab’ disapa Om Bebi oleh anak-anak—karena ada 3 alien yang masuk kamar cewek; Chandra, Sirot, Kamal. Memang mereka wajah kriminal yang biasa tampak di televisi sebagai pelaku pelecehan seksual. Jadi gini kan.

Sebelum tidur, saya minjem hp Monic. Jadi ceritanya Monic ini deket ama bule. Karena Monic lagi ngarep whatsappan ama itu bule, makanya saya bajak hpnya. Bunyinya :

“I miss you so much boy”

Dan pada akhirnya Monic bilang kalo itu dibajak gitu. Bule itu ketawa. Akhirnya saya bajak lagi.

“Baby I love you! Love you! Love you so much! I really miss you boy”

Dan akhirnya identitas saya sebagai penggemar Chibi pun diketahui.

Kemudian si Monic tibatiba nyuruh kita berpose candid soalnya dia mau moto kita terus dikirim ke bule itu, nah, pas foto pertama, si Eryn—boyotnya SwarnaGita angkatan 18—posenya ga banget. Matanya sayu, terus mulutnya agak mangap, plus cd-nya keliatan dikit. Itu orang?

Akhirnya Eryn minta diulang. Monic nurut-nurut aja, nah di foto kedua, Eryn madep belakang lagi sambil sok sok-an main hp. Karena takut cd-nya kembali terekspos dan akhirnya muncul di televisi Spanyol, akhirnya Eryn antisipasi nurunin baju belakangnya.

Dan hasil fotonya adalah Eryn yang tampak seperti garuk garuk pantat.

Fail again.

Karena merasa ga aci, akhirnya Monic bajak hp saya juga.
Tapi bajaknya………………………………………..jengjeng.

Setelah pembajakkan yang hampir membuat saya dikeluarkan dari sekolah, saya dan Tika naik keatas tempat tidur (jadi tempat tidurnya tingkat gitu, Tika diatas saya), dan bikin soundcloud, lagu I Don’t Wanna Miss a Thing, dengan saya yang bermain gitar, duet sama Tika yang suaranya kayak Gita Gutawa (mommy said), dan dengan lagu itu, hari pertama karantina yang melelahkan ini usai.

Oh ya, tidak lupa, saya ngelonin buku fisika malam itu. Jijik ga sih.


Jumat, 27 September 2013.
 
        Keesokan paginya, saya terbangun karena banyak suara gledak gleduk sana sini yang ternyata adalah Tika yang abis mandi pagi. Akhirnya saya keikut bangun. Ternyata semuanya udah bangun kecuali Eryn, yang masih tidur dengan pulasnya yang udelnya kemana mana.

Pengen nyiram pake air panas, takut dipenjara, soalnya disini banyak polisi. Tapi kan Eryn udah biasa disiram pake air keras. Gimana dong.

Akhirnya tanpa dibangunin, Eryn bangun sendiri. Bagaikan zombie baru nyium darah manusia. Padahal saya baru kentut. Berarti Eryn doyan aroma kentut.
Karena jam 7 udah harus sarapan, jadi abis sholat Shubuh saya mandi.

Setelah mandi, kami siap siap untuk kebawah, makan. Jijiknya lagi, saya bawa buku Fisika yang harus saya pelajari sebelum UTS tiba. Gelinya lagi, itu rumus gaada satupun yang nyangkut di otak. Mirisnya lagi, buku fisikanya lecek soalnya ketindihan pas saya lagi tidur. Sumpah malem itu mimpi buruk. Tiba-tiba ada pegas yang mengejar-ngejar dari kejauhan. Eh tardulu itu pegas apa pocong?

Setelah sarapan dan minum teh anget (tepatnya panas banget), kami langsung menuju ke meeting room, dimana latihannya disitu, dan lesehan.

Karena saya kekurangan oksigen karena banyak sekali peserta disitu, saya hampir mati kehabisan nafas dan Eryn hampir memberi nafas buatan.

Untungnya Pak Agus menyelamatkan hidup saya (dari Eryn), dengan berkata, “Yang laki-laki ikut latihan sama saya diluar ya, yang perempuan sama Bu Indri.”

Tiba-tiba Eryn berbunyi “Ek”. 

Ya, akhir-akhir karantina ini Eryn suka mengeluarkan bunyi yang ga wajar. Seperti kalo duduk, bagaikan pantatnya ada tombol buat ngeluarin bunyi. “Ek.” Atau “Ngek.” Atau “IIIIK!” atau “Eak” dan itu suaranya cempreng banget.

Nah akhirnya Sopran dan Alto dilatih oleh Bu Indri. Melanjutkan lagu yang kemarin, yaitu “Bangga Menjadi Anak Indonesia” ciptaan Bapak Presiden kita, SBY!

Ternyata lagunya enak banget. Karena ada penyanyi solo-nya—yaitu adik kecil pemenang lomba nyanyi yang parasnya mirip Kak David waktu kecil, jadi lagunya tambah enak pas digabung sama paduan suaranya.

Karena pelecehan terhadap anak kecil, Tika sama Eryn suka nyuruh saya nyanyi bagian solonya dengan alasan : “Suara lu mirip sama solist-nya mir.”

“Hah, iya?”
 
“Iya, coba nyanyi deh”

Baru nyanyi bait pertama, Tika ama Eryn seneng banget kayak tante girang.
Banyak banget lagu yang dikulik, tapi favorit saya itu lagu Gugur Bunga. Soalnya dari semua lagu paling mellow itu doang. Itu juga saya hampir mati kecekek pas nada tinggi soalnya Bu Indri salah ambil nada dasar. Alto malah udah ada yang masuk UGD. Kalo gasalah si Cia—penari goyang Caesar yang fenomenal yang kerjaannya minta maaf mulu.

Nah, setelah itu lagu Tanah Tumpah Darahku—lagu ini sukses membuat saya kehabisan nafas—kali ini, Eryn gamau ngasih nafas buatan karena dia pun udah abis 3 tabung oksigen—dan karena terlalu bersemangat, kak Rizka salah nada dua kali dan suaranya sangat keras.

“Aduh gue malu…” tuturnya. Tika sama saya ketawa.

Akhirnya putaran ketiga, kak Rizka berdoa “Semoga ga salah lagi….”

Dan setelah itu, suku kata pertamanya ga dinyanyiin, biar ga salah. Great job….

Setelah beberapa jam, akhirnya Pak Agus masuk bersama peserta laki-laki. Dan ruangan kembali kekurangan oksigen. Eryn udah abis 10 tabung oksigen.
Akhirnya kami nyanyi bersama-sama, setelah digabung, walaupun masih kasar, tapi keren juga. Apalagi lagu Bangga Menjadi Anak Indonesia sama Gugur Bunga.

Karena hari Jumat, para lelaki sudah seharusnya menunaikan ibadah Sholat Jumat. Dan artinya……..kita istirahat. Kirain kan cuma sebentar istirahatnya, ternyata 2 stengah jam!!!!! Tapi setelah itu langsung digabung sama orkes-nya, yang saya juga penasaran, pasti keren banget.

Nah akhirnya saya, Tika, Eryn, Monic, Marles—plus Hani, balik ke kamar 334 yang adem nan tercinta. Sambil makan snack, kami cerita-cerita. Saya masih berkutat dengan Fisika. Sungguh menjijikkan, kata Monic.

Akhirnya kami tidur-tiduran, dan sambil dengerin lagu yang ngetrend saat ini namun sayangnya ga dinyanyiin oleh padus nanti—Jodoh Pasti Bertemu.
Wuah si Tika sampe abis 4 botol Vodka sambil nangis nangis dengerin lagu ini. Kalo Eryn mah bebel. Cintanya cuma sama kucing dan baju renang, itu juga bertepuk sebelah tangan.

Si Monic juga, karena galau gabisa ketemu doi-nya, dia galau dengerin lagu ini. Dan seperti biasa, mereka menggunakan mindset ini lagi, Jodoh Pasti Bertemu.

Karena kurang greget, akhirnya saya nyetelin lagu Peri Cintaku—yang oonnya, Monic gatau lagu ini dan pas dengerin langsung mewek diatas bantal. Seperti biasa, Tika juga senasib sama Monic, tapi Monic lebih parah jadi dia yang nangis beneran. Matanya merah seperti Sasuke, idungnya merah seperti Doraemon.

Menikmati istirahat sebelum latihan sampe jam 9 malem, saya bergelut dengan selimut yang anak anak bilang—kayak lemper.

Dan karena sibuk sama Fisika, saya tidak tahu menahu sebabnya tiba-tiba Monic sama Eryn bales-balesan ketawa, dan tiba-tiba Hani sama Tika ikut ngetawain ketawa mereka sementara Marles tidur.

Si Monic ketawa udah kayak nenek lampir, si Eryn ketawa udah kayak tuyul lupa pake pampers. Ternyata mereka ngetawain ketawa satu sama lain dan ketawa mereka berdua bikin kami bertiga ketawa juga.  Tapi paling fenomenal  ketawanya Eryn, sehingga Monic inisiatif buat ngerekam ketawanya Eryn.

Tadinya si Eryn gamau ketawa, dia malah nyanyi “Cit Cirit Citcitcitcit Cirit, ZANTAIIII!” pake suara cempreng tapi subhanallah koplaknya. Kita ganyadar Eryn nyanyi itu sebelum kita ngedengerin ulang rekamannya, dan kami ngakak sekampung.

Dan juga ketawanya Eryn kerekam. Sumpah dah kayak tuyul.

Setelah kejadian itu, Eryn dipanggil boyot.

Dan setelah kejadian itu pula boyotnya Eryn nular.
LKS-nya Eryn. Bukannya di garis bawah malah dicoret.

Setelah itu kami makan siang, dan setelah makan siang, kami langsung ke Pendopo buat latihan sama orkesnya.

Dan ternyata pas jalan kesana, orkesnya udah pada ngumpul, dan saya makin gasabar dengerin gabungannya.

Sekalian ngelatih latih not lagi, kali ini latihannya makin asyik diiringin orchestra, apalagi sekarang ada konduktornya, yaitu Pak Fredi, jadi tambah asyik.

Pas lagu Bangun Pemudi Pemuda—atau kata Pak Fredi, Bapipa….—kan ada bagian dimana cuma orkesnya doang, ada flute-nya, dan trompetnya, pokoknya rame.

Nah pas bagian itu saya sama Tika kan ngeliatin konduktornya, soalnya tangannya kayaknya asyik. Saya ngefans sama stik-nya, gatau kenapa kayaknya enak dipegang. Biasanya dirumah megangin sapu lidi buat main sama kucing. 

Nah, saat saya dan Tika nengok ke kiri………yang ternyata adalah Felicia Agatha, yang sedang joget-joget sambil meragain main terompet, dan pura pura niup peluit, juga jalan ditempat dengan bahagianya. Udah saya dan Tika liatin selama beberapa menit…….dia tetep gasadar. Kayaknya dia adik boyotnya Eryn.

 Kemudian ada Kak Nina yang ngeliatin Cia yang sedang berekspresi ria, tadinya, kami kira Kak Nina mau negur gitu jangan pecicilan….eh malah ikutan. 

Pas lagu Gugur Bunga juga, pas Bu Indri lagi nyanyi solo, kan ada vibranya. Si Cia ngikutin vibranya dengan menepok nepok lehernya, memejamkan matanya, idungnya kembang kempis, sambil bungkukin badannya dengan dramatis. Tolong kepada Cia.

Setelah berletih letih latihan, akhirnya kami dapat kabar bahwa……….latihan cuma sampe jam stengah 6!!! Betapa hatiku takkan senaaaang~

Setelah latihan yang cukup melelahkan, akhirnya kami istirahat di kamar masing masing.

Sebelum istirahat, Marles sebagai ketua STAK mau nginformasiin ke adek adeknya tentang STAK, berarti dia harus ke kamar sebelah. Eryn sebagai yang suka ikut ikut, dia mau ikut ke kamar adek kelas.

“Yaudah yok, ryn.”

Akhirnya Marles langsung keluar lewat pintu yang sulit digeser yang baru kebuka dikit dengan langsingnya.

Saya lagi baca buku Fisika.

Tika lagi baca buku Eko.

Monic lagi main gitar.

Hani lagi main hp.

Tiba tiba ada suara DUK! DUK! DUK!

Semua nengok ke Eryn—yang saat itu entah mengapa kayak banteng nyeruduk nyeruduk pintu.

“Ryn…lu ngapain disitu……….”

“Gamuat…..”

Kami ngakak. Marles muat tapi dia gamuat, padahal badannya imutan Eryn dari Marles… Sesemokkah itu Eryn?

Kalo orang inisiatifnya pasti pintunya digeser dulu, ini apaan. 
Eryn


Malem ini, karena melihat kamar Rizka yang sangat rapih, berbeda dengan kamar kami, maka Tika dan Eryn berinisiatif untuk membereskan kembali kamar yang kayak tong sampah itu.

“Tik! Awas lu nanti malem jangan tidur ya! Nanti gue beresin sendiri.” Berontak Eryn. Tika dengan bertanggung jawabnya mengangguk.

“Nah gitu dong. Kalo lu tidur gue bangunin ya tik.”

“Iyaa bangunin ajaa.”
 
“Oke!”

Tak lama kemudian Eryn tertidur. Ngorok.

Karena suara ngoroknya, kita ketawain dia, sampe direkam Monic. Anehnya, Eryn ga bangun. Padahal suara kita cukup keras.

Nah, pas malem-malemnya, Marles hendak ke kamar kecil. Seketika ia keluar kembali ketika melihat sesuatu di kamarmandi.

“Ih, ini siapa yang pipis belum disentor?”

Gaada hujan atau badai, tiba-tiba Eryn bangun, dan langsung berdiri, berjalan kearah kamar mandi, dan nyentor klosetnya—yang ternyata adalah pipisnya. Dan tiba-tiba dia minta maaf.

“Maaf ya les maaf banget maaf ya.”

Dan kemudian kembali ke kasurnya, dan tidur lagi.

Boyot.



Sabtu, 28 September 2013.


      Harusnya, hari ini saya dan kawan kawan beristirahat dirumah dengan nyaman.

Tapi hari ini dipake untuk latihan.

Bangun-bangun, saya denger alarm dari Eryn yang sungguh berisik. Saya kebangun karena alarm Eryn, dan Eryn juga kebangun, mukanya boyot banget. Akhirnya Eryn—yang semalem diketawain satu kamar—matiin alarmnya, dan saya kembali menyelimuti diri.

“Ih, Nao kayak lemper.” Kata Monic.

Gimana ga kayak lemper mon. Dingin banget gini.

Tiba-tiba ada ketukan yang cukup keras dari pintu arah balkon.

Ternyata itu kak Nina dan kak Aul. Seperti biasa, menumpang buang air (besar atau kecil) karena toilet di kamarnya tidak bisa diflush.

Karena kak Rizka masih tidur, akhirnya kak Aul dan kak Nina mejeng di kamar 334, dan kemudian Tika—dengan bangganya—memutarkan rekaman Eryn nyanyi ‘Santai’ versinya,  dan video goyang Caesarnya yang sangat fenomenal. Karena tubuhnya yang sangat mungil dan semok, Eryn sangat pandai goyang Caesar—walau keliatannya kayak angsa ingin dinikahi.
Kak Aul sama Kak Nina udah gatau lagi mau ngomong apa ketika ngeliat Eryn yang sebenarnya. Tak lama kemudian kak Rizka dateng ke kamar. Hancurlah harga dirimu, ryn.

Setelah makan pagi, kami langsung diarahkan oleh Pak Agus ke GOR, dimana disitu kita akan tampil didepan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dirjen Kebudayaan. Tidak lupa ada papanya Tika yang juga adalah Konduktor. Saya pernah bilang ke Tika, 

“Tik kalo bokap lu jadi konduktor gimana?”

“Jangan mir”

“Kenapa?”

“Ntar gue ngakak”

Sungguhlah durhaka wahai dirimu, Francisca Briantika.

Pertama tama kita latihan dulu sama Bu Indri dan Pak Agus. Dan sesuai kesepakatan, hari itu harus apal lirik. Kalo sekolah sekolah lain berusaha ngafalin lirik sampe mejem mejem, kalo anak galan kayaknya malah dengerin Jodoh Pasti Bertemu, biar pas karantina ketemu jodoh.

Pada awalnya, saya ga begitu memperhatikan suaranya Pak Agus, soalnya yang saya tau suaranya Pak Agus bass seksi gitu. Kalo Mas Adji itu bagaikan Andrea Bocelli kw dikit. Kalo Bu Indri suaranya bikin Monic meneteskan air mata, Tika bisa nyanyi oktaf tertinggi, Marles suka orang Jawa, dan Eryn ngambang di kali.

Ternyata setelah saya duduk didepan, suaranya Pak Agus ……………..ini pasti Gita Gutawa versi pria. Fix banget hari H pak polisi satu ini harus foto ama gue.

Anyway, selain ngelancarin lirik nada, kali ini dinamikanya juga diperhatikan, jadi udah mulai ditel hari ini. 7 lagu yang kita bawakan berurutan dinyanyikan bersama orkesnya , itu pun baru latihan. Orkesnya pun masih latihan juga, kadang ada kesalahan jadi harus ngulang lagi. Sekitar jam setengah 12 kita istirahat lagi. 

Disitu, sebenarnya kita gaboleh keluar dari arena GOR, tapi, karena anak anak GemaSMAJakarta ini memiliki jiwa petualang yang tertanam sejak lahir, kita kabur kaburan ke kamar masing-masing.

Sebenernya anak-anak 39 makannya di GOR itu langsung. Apalagi Eryn, yang udah melakukan inspeksi ke tiap tiap sudut untuk mencari sesuap nasi. 

Karena perut saya kembung disebabkan terlalu banyak dikasih aqua sampe 3 gelas berturut turut, saya jadi ga nafsu makan. Begitupun Tika, yang gabisa makan karena behelnya. Akhirnya, saya dan Tika sepakat kembali ke kamar sementara yang lain makan. Terlihat dari jauh Eryn udah menyantap makanannya. Kalo gasalah liat tadi Eryn gigit leher panitianya.

Akhirnya di kamar, saya dan Tika kembali menyeruput Energen coklat yang nikmat walau tanpa air panas, sembari nyiapin kebaya yang semalem dibagikan—yang ukurannya cuma ada XL dan XXL atau XXXL. Sumpah dah itu kebaya gede banget. Saya bagaikan kucing yang dipakein karung goni yang berusaha melepaskan diri. Lah apalagi Eryn yang badannya kecil dapetnya XXL. Udah kayak pake baju kalong.

Akhirnya setelah makan siang, kami kembali ke GOR—dan harus udah pake baju kebaya itu, kan mau ditonton. Akhirnya dengan bersusah payah, kami berjalan ke GOR itu dengan langkah perlahan ala paskib. Yah, walaupun Monic sama Eryn ngangkang-ngangkang jalannya, tapi Alhamdulillah, kami semua pake celana dibalik kain batiknya. 

Yang mengejutkan adalah ketika kak Aul, kak Rizka, dan kak Nina ga pake..
“Yah mampus aja nih kalo lepas kebawah.” Ujar kak Aul..

Kami kira, di GOR itu udah banyak orang, ternyata baru kami doang, berasa anak rajin yang berbakti pada nusa dan bangsa. 

Akhirnya setelah nunggu, rame juga. Dan kami semua kembali naik ke tribun—of course bagi para wanita hal ini membutuhkan energi yang sepadan dengan mendaki gunung karena kainnya menghalau pergerakkan kita. Dan tentu saja hal ini sangat berbahaya dan butuh pelatihan khusus dan intensif oleh pelatih yang memiliki pengalaman bagi yang tidak memakai celana didalamnya.

Pas udah rapih duduk ditempat masing masing sesuai posisi, akhirnya kita langsung latihan lagi, kali ini disaksikan oleh Dinas Pendidikan—salah satunya ada Pak Didih, yang dulunya Kepala SMAN 39.

Karena tau kalo ada Pak Didih, Eryn langsung jadi anggun, ga bunyi bunyi “Ek” “Ngek” “Ik” “Oek” lagi. Entah itu karena bajunya kelonggaran apa emang lagi nahan kentut.

Setelah itu kami mulai bernyanyi dari lagu awal sampai akhir yang telah disusun oleh Pak Fredi.

Dari setiap lagu yang kami nyanyikan, kami selalu mendapatkan tepuk tangan. Karena Dirjen Kebudayaan belum dateng, jadi belum penuh yang nonton.  Tapi overall, latihan kali ini much better than yang kemaren kemaren.

Setelah itu, Bu Indri dan Pak Agus mempersilahkan kami duduk kembali, sambil melatih dinamikanya kembali, terutama bagian yang staccato-staccato itu, kurang greget, kata Pak Agus. Ya gimana pak. Pemuda pemudi jaman sekarang galau mulu. Jadi kalo nyanyi Gugur Bunga ya bisa ampe nangis nangis saking menghayatinya. Kalo nyanyi Garuda Pancasila ya jadi mellow pak. Maap ya pak.

Setelah dilatih kembali, kami dipersilahkan istirahat kembali sembari menunggu kehadiran beliau.

Nah pada kesempatan kali ini, kita malah foto foto pake hpnya Hani, Nadhifah, dan Derry. Itu kayaknya iPhone 16GB&32GB abis karena muka Marles semua dah.

Ada foto mukanya Kamal lagi random banyak banget. Apalagi Kamal terkenal akan wajahnya yang banyak ekspresi. Terdapat 1000 ekspresi pada wajah Kamal, ngalahin Monalisa.

Ada juga Vadio sama Marles, yang kata Marles—mirip sama adeknya. Vadio ya seneng seneng aja dibilang adeknya Marles. Tapi bikin malu Marles mulu. Buktinya dia kemana mana selalu pake bando kuning dan histeris kalo ngeliat cowok ganteng atau kucing ngemut jempol.

Setelah menunggu lama, akhirnya bapak Dirjen Kebudayaan datang juga. Langsung banyak paparazzi wuaeoaeoahaiiafaifgafha aodaoghaogfa ga ngaruh gua gadifoto.

Yup, kami pun bernyanyi lagi dari awal urutan lagu sampai habis, dan selalu mendapat tepuk tangan. Kaki kakinya udah pada ganapak tuh.

Yak, setelah mendapat saran, masukkan, dan kesepakatan, akhirnya ada pengumuman bahwa besok langsung gladi bersih di Lubang Buaya—dan kita harus berangkat jam stengah 6 teng. Yang artinya…………………saya harus bangun jam 4. Hal yang hampir mustahil terjadi. Mitos.

Dan disuruh pake kebaya yang saat itu kami pake.

Yang belakang langsung protes, “BAUUUUU”

Dalem hati saya : ‘Kalo lagi OPPK pasti mereka langsung ditembakin satu satu……’

Yup. Karena besok gladi bersih, akhirnya kami disuruh istirahat di kamar masing masing, gaboleh teriak teriak kayak Eryn, dan gaboleh tidur malem malem.

Reality :

21.30 


“Main tepuk nyamuk yuk!!!!!!!!!!!”

“AYOOOO!!!!”

Bunyi kentut menandakan mulainya permainan. Saya, Tika, Eryn, Kak Nina, Kak Aul, Kak David, Chandra, Sirot, dan kak Rizka main tanpa dosa didepan kamarnya kak David.

Kesepakatannya sih gaboleh teriak, biar Mas Bayu ga ngomel ngomel. Tetep aja semuanya teriak, walau mulut ampe ditutup tutupin pake plester juga tetep bersuara.

Yang pertama kali kena itu Kak David, karena paling lambat nepok. Kedua tetap kak David, ketiga tetap Kak David, dan keempat baru Eryn, dan selanjutnya Eryn, ohya Chandra nyelip dikit…dan kak Aul. 

Sebenernya, kak Aul udah menang. Tapi karena salah persepsi—yang seharusnya kalo udah abis diem aja, nepok kartunya kalo ada yang disebutin.
Karena kak Aul ingetnya aturan mainnya : kalo udah selesai harus nepok berkali kali kartu yang ditumpuk,

Sementara aturan main di otak kami : kalo salah tepok, diambil semuanya.
Jadi, kak Aul harus mengambil semua kartu. 

Dengan tidak rela, kak Aul nyalahin kak David yang cerewet akan tepokan kak Aul yang tidak sesuai aturan.

“Lu bikin aturan sendiri yak!”

Kemudian, tak lama kemudian, kartu Eryn habis. Wajahnya sudah sangat lega bagaikan habis buang hajat. Seperti biasa, dia berbunyi “Ngek” dulu.

Tapi, karena di otak Eryn aturan mainnya  :  kalo udah selesai udah ga ikutan
Sementara di otak kami aturan mainnya : kalo yang kartunya abis harus ikut nepok sekali dulu baru udah ga ikutan

Jadi, ketika ada kartu yang kami tepok bersama sama, Eryn tidak menepok. Sehingga semua mata tertuju pada Eryn—kecuali kak Aul sama Chandra yang tampak bingung.

“Erynnn kok ga nepok?” Tika sewot

“Lah kan gue udah abis!”

“Ihhh harus nepok sekali dulu baru udahaan” kata Kak David, nambahin Tika.
“Ih lu bikin aturan sendiri kan vid!” Kak Aul ngebales. Kita ketawa.

“Eh kok gue bingung ya aturan mainnya gue baru tau loh ini.” Kata Chandra. Kita diemin.

Akhirnya Eryn kembali investasi kartu.

Lagi asyik asyiknya main—karena kalo yang kalah harus Dare—tiba-tiba ada pendamping dari sekolah lain yang lagi jahit baju memergoki kita yang tampak seperti sedang pesta minuman keras. Gimana mau minum minuman keras. Orang minum teh aja udah gumoh semua.

“Loh kalian kok belum tidur?”

Kita semua panik. Takut dikira main poker dan kita sedang memperebutkan hadiah pergi ke Hawaii selama 2 minggu—kecuali Eryn. Eryn termasuk dilindungi pemerintah jadi gaboleh kemana mana.

Keliatannya : 

 

Kenyataan :


Akhirnya kami berdiri, karena kami disuruh tidur.

Permainan pun berakhir dengan perasaan mengganjal…….karena, kapan lagi main mainan bocah sama teman teman sampe larut?



Minggu, 29 September 2013.

    Harusnya bangun jam 4.

Tapi malah jam 5.

Karena menjadi lemper itu adalah hal asyik.

Akhirnya dengan berat hati, saya cuma sikat gigi dan cuci muka pagi itu, gaya bersih bersih ala bule.

Dan dengan muka yang masih setengah beler, saya sarapan cuma pake roti dan meses itu juga dibawa ke bus………..

Saya duduk disebelah Monic pas di bus, keadaan masih setengah idup, setengah entah kemana. Si Monic pagi pagi langsung foto foto pake iPod-nya, gapeduli seberapa beler wajahnya.

“Foto foto mulu mon. Kasian memory cardnya”

“Ah biarin nao. Lu mau ikutan?”

“Mau.”

Karena alay, saya gatau berapa waktu yang ditempuh dari padepokan sampe lubang buaya, jadi saya nanya ke Vadio dan Priyanka—ternyata saya salah tanya.

“3 jam kak perjalanannya.”

“Hah serius? Gue tidur nih”

“Ya ngga lah kak orang setempongan tinggal belok kanan nanti.”

“Php anjir.”

Saya gajadi ngelanjutin mimpi buruk yang dibawa oleh buku Fisika yang saya kelonin.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Lubang Buaya.

Kami langsung menuju trap yang telah disediakan untuk paduan suara, sebelumnya kami menitipkan hp dulu ke pendamping masing-masing, galan tentu ke Bunda Watiiii~

Yap setelah baris, ternyata sempit banget….Eryn sampe gamuat sehingga ia harus diletakkan diatas drum.

Setelah microphonenya diatur sama Pak Agus dan beberapa kru yang lain, kami pun mengatur ulang posisi kami sehingga ga empet empetan dibelakang.

Saat itu saya sangat bersyukur memiliki tubuh kecil.

Kemudian setelah terompet bunyi kami pun berdiri semua. Peserta-peserta upacara yang terdiri dari beberapa kalangan(?) satu persatu datang dengan kelompoknya masing-masing—ada taruna, angkatan laut, angkatan udara, akmil, polisi, polwan, pramuka—masih banyak lagi, sampe anak anak SD yang masih imut imut.

Kemudian setelah semuanya baris dan dantonnya menyiapkan, ada salam kebangsaan, peserta upacara hormat, sementara paduan suara dan orchestra tetep siap ditempat.

Setelah itu baru ada persembahan lagu-lagu dari paduan suara, Pak Fredi mensinyalkan kita untuk siap siap nyanyi lagu Garuda Pancasila.

Akhirnya setelah intro dari orkesnya, (dan ada yang fail sekali karena terlalu cepet masuknya), kami pun bernyanyi—tapi kurang greget. Kayaknya masih polos gituuu dinamikanya belum dapet.

Dan setelah itu Pak Fredi mensinyalkan dengan mulutnya, “Bapipa”…atau Bangun Pemudi Pemuda.

Akhirnya kami bernyanyi Bapipa, tapi tetep masih kurang greget… Untuk menghemat waktu—sepertinya—akhirnya saat intro kedua, Pak Fredi menghentikkan kami, dan upacara dilanjutkan kembali.

Karena yang berlatih adalah peserta upacaranya, jadi kami dipersilahkan duduk….and another aqua! Jika saya tewas disini 75% karena kekembungan.

Dan ada snack! Awalnya saya gamau makan, sok keren, saya jawab,

“Sorry, lagi OCD.” Padahal sih emang lagi mules banget gasempet ke toilet pagi pagi ucet.

Tiba-tiba saya liat kotak makannya Eryn.

Ada pastel.

“OCD-nya ntar aja kalo udah punya KTP.”

Karena sudah lelah memakan roti, jadi rotinya saya ga makan. Tadinya pengen sumbangin ke Eryn. Erynnya udah gumoh duluan.

Nah, tak lama kemudian upacara selesai dilaksanakan, dan akhirnya persembahan lagu-lagu lagi. Sebelumnya, Pak Fredi bilang kalo lagunya dikurangin 2, jadi Tanah Tumpah Darahku sama Bangun Pemudi Pemuda ga dinyanyiin. Ya, walaupun sedih karena gabisa denger & nyanyi Tanah Tumpah Darahku, tapi seenggaknya saya dan Eryn bisa hemat tabung oksigen.

Akhirnya pertama tama kami menyanyikan lagunya Pak SBY dulu, dan tentu saja ada adik kecil kembarannya kak David yang suaranya sungguh merdu—kalo kata Monic, “Lu bisa nyamar ego mir menyelundup jadi dia gabakalan ada yang tau.” Pelecehan anak kecil.

Setelah Bangga Menjadi Anak Indonesia, kemudian Gugur Bunga, yang saya sangat suka suaranya Bu Indri saat nyanyi dan solo violinnya tidak ketinggalan kecenya! Karena terbawa suasana, Eryn sampe goyang goyangin badannya tanpa sadar.

Kemudian padusnya saut sautan dan terakhirnya Unisono. Beh Eryn nangis, tapi sempet tari udel juga sih.

Setelah gugur Bunga dilanjutkan lagu Pada Pahlawan, dan Syukur.

Dengan lagu Syukur yang sangat kece sekali bagian akhirnya, gladi bersih pun usai..

Dan banyak masukkan juga, seperti senyum, terutama cowok yang biasanya pake muka masem kayak paskibra, mungkin kebawa suasana.

Dan juga saat di panggung, udah gaboleh ada pergerakan lagi, termasuk garuk garuk. Mampus. Tadi aja abis perang ama lalet, gimana ga garuk garuk besok nih. Kalo kata Tika, “Garuk garuk itu enak padahal…” berarti kalo nanti Tika masuk TV, pasti posenya lagi garuk garuk.

 Kayak cerita Tika saat papanya masuk TV dan di close up, ternyata posenya lagi gaenak. Kata Tika mamanya marah marah.

Setelah gladi bersih, Pak Fredi berterimakasih pada kami semua dan menyemangati buat hari Selasa nanti. Dan akhirnya kami otw ke Bus lagi buat….tidur, sih….

Dari kejauhan, tampak Chandra, kak David, Priyanka, dan anak laki lainnya lagi foto foto sama adik kecil kw-annya Kak David. Sumpah mirip banget kak David sama anak kecilnya……….

Terus si Chandra juga lagi, modus foto sama Bu Indri. Ini mencoba move on dari Bu Ayu apa emang kangen sama Sapi-nya terus melampiaskan pada Bu Indri? Tidak Chandra, mereka berbeda Chandra, berbeda. Jangan retweet femaledaily lagi Chandra jangan.

Dan sesampainya di bus…………..itu sangat zonk tolong. Tiba-tiba ada bau kambing Qurban, padahal saat itu Qurban kan masih lama. Akhirnya saya pindah duduk ama Priyanka. Si Monic juga baru nyadar lagi ada aroma aroma yang berusaha mengalahkan parfumnya Pak Sitinjak. Si Chandra lagi dodol, malah pindah sebelah Monic. Alhasil, dia makin sakit.

Tapi akhirnya kita foto foto sih, si Chandra jadi sehat mendadak gitu, apalagi pas dia bilang “Jangan foto dari deket! Gua jelek kalo dari deket.”

Dan sebelum berangkat, di bus sebelah ada angkatan udara, dan salah satu dari mereka………………sangat tampan dan item manis.

Eryn, Rachel, dan Vadio—yang saat itu lagi pake bando kuning—teriak histeris pas ngeliat kakak kakak itu.

Dan pas Rachel dadah-dadah….kakak itu senyum dan senyumannya manis .....banget.

Vadio—yang pake bando kuning—langsung teriak histeris. “GANTENG BANGET! GANTENG BANGET!”

Eryn—yang saat itu lupa statusnya udah taken—juga teriak histeris sampe kotak suaranya pecah.

Dan akhirnya Rachel dadah dadah lagi ketika busnya pergi.

Dan kakaknya dadahin balik.

Vadio—yang pake bando kuning—paling keras teriaknya.

 Sesampainya di kamar, langsung semua beranjak dan makan KFC di balkon belakang kamarnya kak David, disitu kita makan makan juga sama sebagian anak anak padus dari SMA 78, dan mereka asyik lho diajak ngobrol. Bahkan ada juga yang dari galan menganggap karantina ini adalah arena mencari jodoh. Eh beneran kenalan.

Nah, setelah makan siang asyik di siang bolong, dan setelah ada adegan kentut mengkentut, kami pun kembali ke kamar masing masing dan langsung tepar…..

Asyiknya bobo siang sampe jam setengah 5 sore, membuat satu kamar gaada yang bales PING!!!-nya Marles yang saat itu abis gereja. Dia panik takutnya ada latihan lagi. Karena kita gabales bbm, dia tambah panik. Realita : Tika lagi mimpi juri mergokin keteknya basah, saya mimpi Shintya botak dan tiba-tiba operasi kelamin, Monic mimpi bulenya diembat sama anaknya ibu kantin, dan Eryn mimpi jadi juara 1 tari udel.

Saya kebangun garagara Marles tiba-tiba masuk kedalem dengan teriakan panik. Karena pusing, saya pun berjalan ala zombie ke kamar mandi dan langsung ambil wudhu, sementara yang lain masih rame.

Nah, malam harinya, setelah kunjungan dari mama papa dan adik saya (yang dimana papa dan adik saya dimodusin sama temen temen sekamar—terutama Eryn yang excited banget ngeliat Reyhan soalnya ada lesung pipinya), saya, Tika, Monic, dan Eryn (Marles tidur) melihat kamar kami yang sangatlah berantakan.

Dengan inisiatif keibuannya yang sungguh tinggi (dan rasa bersalahnya karena tidur ninggalin Tika), Eryn berkata , “AYO KITA CIPTAKAN KAMAR INI ASRI,NYAMAN,SEJUK, DAN INDAH!!!!!”

“AYO ERYN!!!!”

“AYO! Nao! Lu tanam pohon disebelah sana! Monic! Jangan diam saja, hentikan anak anak yang buang air besar di kali itu! Tika! Siapkan perahu karet!”

“BAIK ERYN!”

Akhirnya kita main Dora & Diego.

Nggak. Kita beneran beres-beres sampe mampus.

Lucunya, Eryn ini beneran kayak emak emak. Dan lucunya, dia selalu menemukan barang Monic.

Ada celana jeans, “Punya siapa?”

“Gue!” sahut Monic.

Ada celana pensil warna ijo, “Punya siapa?”

“Gue!”

Ada baju abu abu, “Punya siapa?”

“Gue!”

Ada jaket, “Punya siapa?”

“Gue!”

Ada sepatu, “Punya siapa?”

“Gue!”

Ada iket rambut, “Punya siapa? Monic yak!”

“Iya gue!”

Ada celana pensil warna oren, “Punya lu ya mon!”

“Iya guee!!!”

Ada kaos kaki dibawah tempat tidur, tapi cuma sebelah, “Punya siapa lagi ini?!”

“Gueeeee!”

Tak lama kemudian ada kaos kaki sebelah lagi. “Ini punya siape lagi?!!!”

“Gue lah, masa kaos kaki gua cuma sebelah…”

“AHHH ELU MON! Barang barang udah kayak sampah ada dimana mana! Untung gue nemuin mon!”

Monic cuma ketawa polos.

Nah, setelah beres beres, Eryn inspeksi sana sini. Eh dia malah marah marah.

“Ini apaan sih maksudnya sedotan udah gadipake ditata rapih di meja?! Nothing tau!”

Kita diem nahan ngakak liat Eryn yang biasanya dibully jadi kayak emak emak.

“INI LAGI AQUA UDAH ABIS MALAH DITATA RAPIH, BUANG KEK!”

“INI JUGA PISANG NGAPAIN DITATA RAPIH DIATAS MEJA?!”

“LAH INI AQUA BOTOL KOSONG NGAPAIN DITATA RAPIH DIMEJA?!”

“BUANG SEMUA BUANGGGGG!!!!!!!!!!!!!!!”

Tiba-tiba pancaran sinar datang entah darimana. Angin berhembus mengibas rambut Monic hingga ia kelilipan. Tiba-tiba Eryn berubah jadi Ultraman lalu ngupil.


Akhirnya Eryn buang buangin sampah.

Terakhir Eryn ngeliat aqua gelas masih nganggur.

“Itu punya siapa?!”

“Gue ryn” kata Tika sambil nyeruput minumnya.

“Ohhh. CEPETAN ABISIN!”

Tika bukannya takut malah ngakak.

Tak lama kemudian, Eryn nemuin gunting dibawah tempat tidur.

“Punya siapa lagi nih? Awas aja sampe punya Monic.”

Monic kali ini diem, saya sama Tika juga, soalnya saya gabawa gunting dan gunting Tika emang warnanya item.

“Ihhh Marles kali ya? Aneh banget tiba tiba dibawah kolong kasur gue gaada yang punya.”

“Sebenernya itu punya gue ryn….” Ujar Monic.

Zonk.

Akhirnya karena males beres beres dan karena emang kamarnya udah gakalah rapih sama kamar Rizka, kami berempat main kartu, tepok nyamuk again!
Disini saya kalah mulu.

Anehnya, kalahnya selalu di angka 10, dan angka 10 pasti selalu saya lewatin.

Misalnya,

“8, 9,”

Saya , “Jack.”

“10 MIR!!!!!”

“Oiya lupa!!!!”

Dan pada akhirnya semuanya kena Truth, kecuali Eryn.

“Yeeeey gue menang muluu”

Eryn girang.

“Ihhh pokoknya Eryn harus kalah!!!” Monic sama Tika sewot, saya iya iya aja, udah capek kalah soalnya gara gara angka 10.

Karena bosan main tepok nyamuk, akhirnya kita main setan. Nah, disini yang kalah Monic mulu, berarti Monic setan….Eryn belum kalah.

“Yeeey!”

“HARUS KALAH!!!”

Akhirnya kita main cangkul. Saya kalah mulu.

Eryn menang mulu.

“YEEEY!”

“KALAH GA LU!!!!”

Akhirnya karena capek, akhirnya kita cerita cerita sampe jam 1 malem.

Lagi asyiknya cerita, si Eryn, yang ingin menuangkan pendapat di kepalanya, tiba tiba mengangkat kakinya, dan tanpa aba aba…

DUT.

Singkat padat jelas keras, staccato, fortissimo, birama 2/4, allegro.

Eryn kentut.

Tika saya Monic reflek ngakak ga ketahan akibat kentut imutnya Eryn. Eryn kayaknya harga dirinya terinjak injak di karantina………………………..

Malam itu, Tika bilang ke kita,

“Gue gamau pulang nih……masih pengen karantina..”

“Iya nih, parah banget, karantina gue kira latihan mulu…ternyata asyik banget ya…apalagi makanannya enak enak.” Kata Eryn.

Tapi serius, makanannya enak enak. Dan tersedia aqua banyak sampe kembung.

Akhirnya dengan kegalauan luar biasa karena besok terakhir latihan bareng…….kita tidur.

Senin, 30 September 2013.

     Hari ini adalah hari yang berbahagia bagi Gema SMA Jakarta, karena ketika kawan kawan yang lain lagi bersekolah….kita senam pagi bersama!!!!

Sebenernya, kita juga agak males senam pagi, karena lebih enak tidur, jadi lemper diatas kasur. Marles Eryn juga paling rame protes garagara males senam.

“Aaaah males banget sih senaaaam enakan tidur tauuu besok kan udah tampiiil harus istirahat.” Alibinya masuk akal juga, tapi kalo difikir fikir senam pagi juga bermanfaat buat besok..

Sebenernya saya juga males..apalagi ketika Eryn nitipin hpnya yang mengeluarkan radiasi yang terpancar langsung dari planet Venus. Panas banget di kantong!

Nah, kita itu jalan pagi bersama, ngelilingin sekitar padepokan selama 2 puteran. Di puteran kedua, pas ditengah tengah, tiba-tiba anak laki laki kayak kuda, tiba-tiba lari ngejar ngejar anak cewek. Bukannya santai, anak anak cewek malah terpengaruh. Mereka teriak teriak kayak dikejar setan dan akhirnya judulnya bukan jalan maupun jogging pagi. Melainkan sprint pagi.

Nah setelah ‘sprint pagi’ yang sangat menguras keringat namun menambah urin, akhirnya kami melakukan semacam stretching gitu, sambil ngitung bareng bareng, dan ada bapak instrukturnya.

Nah karena hpnya Eryn panas, saya ngeluarin hpnya Eryn dari kantong…ketika iPhone saya yang tak terlindung apapun jatuh kebawah terbawa gravitasi. Ampe pecah ujungnya.

“ASADAFGAOFHAFALHFALHALDHAFLAFLKFHAKLFHAKFAHFKAGFAHDKAJDHADKSJHS”

Apadaya lah. Yasudahlah ryn. Ini karena radiasi Venus ryn.

Nah setelah olahraga selesai, kami disuruh kembali ke kamar masing masing—ada yang mandi dan ada yang makan dalam satu kamar, jadi hemat waktu. Akhirnya saya sama Tika dan Monic mandi duluan, sementara Eryn sama Marles makan duluan karena mereka kelaperan hampir busung lapar.

Nah setelah mandi, kita tukeran deh, dan akhirnya saya dan Tika juga Monic kebawah untuk ke pendopo, katanya sih latihan ekspresi dan mematung selama 15 menit. Dan kemudian tibatiba ada Dhea, yang manggil saya dan Tika.

“Eh nao, tika, momon, tungguin dong! Masa gue ditinggalin sendirian di kamar, semuanya udah pada kebawah, jahat banget kan ya :(“

Yup, Dhea lagi ulangtahun, jadi semuanya berencana ngerjain dia. Dan biar Dhea ga curiga, kami pura pura baik(?)

Yap, sesampainya di pendopo, posisi kami diatur ulang kembali, dan setelah itu….latihan mematung beneran.

15 menit. Sumpah.

Itu gaboleh garuk garuk.

Gaboleh gerakin idung.

Gaboleh gerakin jempol kaki.

Jadi patung semuanya.

15 menit.

Dan saat itu, Bu Sri kayak ‘ngomelin’ kita, bukan ngomelin sih, kayak memberi ‘motivasi’ agar kita ga kalah sama anak SD yang tahan upacara dan mematung gitu.

Karena merasa konsentrasinya keganggu, semua anak kompakan bilang “SSSST.”

Dan itu parah banget, mau ngakak gaenak.

Berkali kali ngomong, di”Sssst”-in lagi.

Eryn malah udah ngakak duluan.

Mana si Chamil ngeluh mulu, “Aduh ketek gue gatel….”

Tika nahan ketawa.

Dan setelah 15 menit jadi patung dan idung saya udah gatel banget bangetan, akhirnya latihan mematung (sambil senyum) pun selesai, jadi, itu latihan buat kita besok agar ga banyak gerak, soalnya bisa aja kalo kita lagi garuk garuk tiba tiba kesorot sama TV yang meliput Live. Harga diri ancur dah. Apalagi kalo cekunyem kan.

Nah setelah latihan mematung, kami langsung dikirim ke ruang latihan dimana udah ada Pak Agus dan Bu Indri.

Pembukaannya, Pak Agus bilang sama kita, “Kalian tadi pagi olahraga ya?”

“IYAAAA” Harapannya mungkin dikasih pengertian bahwa kita capek dan ingin bobok.

“Oh iya,  olahraga pagi itu juga salah satu masukkan dari saya.”

Langsung diem semua.

Tadinya, saya ngeluh olahraga, pas Pak Agus ngomong gitu, jadi ngebatin ‘GAPAPA! GAPAPAA!’

Dan akhirnya kami latihan lagi, kali ini, kami latihan dinamika. Karena saya juga ngerasain kemaren dinamikanya kurang greget dan hari ini dikulik habis oleh Pak Agus dan Bu Indri sampe akhirnya suara kita bener bener ‘Wow’ banget apalagi bagian yang lagu perjuangan yang semangat, feelnya dapet. Yah, walaupun lagu Garuda Pancasila kadang kadang suka salah masuk…

Dan lagu Gugur Bunga. Yap. Ketika Pak Agus ngasih contoh suara alto sama sopran yang terbilang cukup tinggi di lagu ini, saya sama Eryn ngangak sampe netes.

Saya lagi ngangak

Eryn lagi ngangak.

Awalnya, Pak Agus ngasih contoh  bagian “Ampunkan Dosa-dosanya,” yang dimana bagian suku kata ‘do’-nya tinggi nadanya, dan agak ga nyampe, dan beliau bilang,

“Aduh, saya ganyampe suara cewek.” Sambil megangin leher. Saya sama Eryn ketawa kecil begitupun lainnya.

Eh setelah dicoba yang kedua kali………..

ITU NYAMPE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Dan emang parah banget pas bagian yang lebih tingginya juga nyampe…..suaranya kok………….stop it mister, stop it. *ngajak Mas Adji karantina* *kangen Mas Adji already* *kangen kelucuan mas Adji* *Monic kangen Mas Adji*

Yap, setelah itu kembali ke dinamikanya lagi bagian lagu lagu yang semangat, dan Bangga Menjadi Anak Indonesia yang most favorite-nya kamar 334 (karena Nao bisa nyamar, kata Monic, pelecehan anak kecil).

Dan setelah bernyanyi, Bu Indri memberi banyak masukan juga, dinamika, dan juga ekspresi, dan juga mengingatkan kembali di beberapa lagu dan ketukan-ketukannya, kapan kita masuk setelah intro, dll…ketika ada yang ngomong sendiri di belakang.

“Hey tolong kalau ada yang berbicara didengerin jangan ngobrol sendiri.” Kata Pak Agus, dan langsung hening. Begitu pula Bu Indri yang baru saja diem. Pak Agus nengok ke Bu Indri. “Udah bu?” Bu Indri ngangguk. “Udah.” Kita ketawa.

Dan setelah itu omongannya Pak Agus yang bikin galau seisi ruangan.

“Disini ada yang mungkin mulai ngelirik cewek, ngelirik cowok…”

“IHIIIIY!”

“ada yang minta kenalan…”

“AAHAAY!”

“ada yang pdkt…”

“IHIHIIIY!!!!”

“ada yang minta nomor telepon…”

“EAAAA IYIIII!”

“ada juga yang jadian disini..”

“WWEEEEEEEEEEEEEEEEEY!!!”

“Disini juga banyak punya temen baru pasti… tapi besok udah pisah…”

Mampus semuanya diem.

Seisi ruangan galau. Padahal gadiapa apain.

Dan kita juga baru sadar kalo ini adalah latihan terakhir kita bareng bareng, besok udah tampil, dan hari hari selanjutnya, gabakalan ada lagi latihan bareng kayak gini…latihan sama Pak Agus sama Bu Indri..gak ada lagi yang lari lari buru buru ke tempat latihan takut telat… gaada lagi yang ngelirik lirik cewek cowok cakep yang lewat dan ujungnya kenalan…gaada lagi yang namanya nyanyi nyanyi bareng kayak gini…dan gaada lagi yang bangun sampe malem dan lari lari kalangkabut karena takut diomelin Mas Bayu—or Om Bebi, for more akrabnya.

Dan hari Rabu setelah tampil, galan harus menghadapi UTS.......

How galan love us :)

Yap, akhirnya kami keluar ruangan dengan sedih hati juga…soalnya itu latihan terakhir…

Tapi karena ada snack lagi gajadi sedih.

Setelah itu kami naik keatas, tadinya mau rapat STAK, tapi karena ada surprise buat Dhea—yang ternyata kakak kakaknya, adek kelas cowoknya, dan saya Monic Eryn Tika dan Marles terlambat—harus buru buru turun tangga yang 3 lantai itu sambil tepok tangan dan nyanyi “HAPPY BIRTHDAY DHEA! HAPPY BIRTHDAY DHEA!” Sumpah boyot banget sambil turun tangga kayak gitu.

Ternyata si Dhea abis dikerjain sama Bunda, kata Dhea—yang saat itu kebetulan boyotnya meninggalkan kunci dikamar yang dikunci dan gasuka menu makan siang saat itu, Dhea dimarahin sama Sirot dan lain lain. Disitu Dhea udah galau, tapi masih belum nangis. Nah pas disuruh duduk sama Bunda , dan Bunda nanya,

“Dhea, denger denger dari temen temen kamu gamau makan makanannya ya?” tanya Bunda. Dhea ngangguk

“Iya Bunda, emang gasuka makanannya…”

“Kamu gimana sih……” dan selanjutnya Bunda ngomelin Dhea. Gimana sih perasaan Dhea yang diomelin sama Bunda yang hampir gapernah marah sama kita semua. Langsung nangis dia…

Dan tiba-tiba kue ulangtahun berupa rainbowcake yang dibawakan oleh mama Dhea dan uti-nya Dhea dataaang.

Dhea menangis terharu, kita masih nyanyiin Happy Birthday untuk Dhea..

Dan akhirnya Dhea make a wish, dan meniup lilinnya… Yeeeeey..

Kami kira umur Dhea seumuran sama kita, 16 tahun…tapi ternyata lilinnya berkata lain.

17.

“Dhea tua ya….” Kalo gasalah ada yang ngomong gitu.

Akhirnya sesi pemotongan kue pun dilakukan. First cakenya buat mama Dhea tentu saja, kemudian Uti-nya Dhea dan Bundaa

Kemudian Dhea motong motongin random deh buat dikasih ke semua orang, dan menyisakan satu kue buat anak 78—yang Dhea sangat ngefans dengan kupingnya—kalo gasalah namanya Hendi apa Hendri? Aku lupa, otak kebanyakan Biologi.

Yup, setelah acara ulangtahun Dhea, saya, Vadio, Priyanka, Monic, dan Eryn ga langsung  naik keatas kayak yang lainnya, tapi kita duduk duduk dulu, numpang Wifi yang baru diketahui keberadaannya setelah 5 hari disini.

Sambil download lagu lagu mellow, kita cerita cerita, nyeritain guru, temen temen, sampe pengakuan Vadio yang absurd setelah dia bilang Pak Agus ganteng dan saya memasang wajah ‘What is the meaning of this? You gay man you gay.’

“Ih gue tuh kalo di kamar jarang ngomongin cewek kak. Tanya Priyanka.” Priyanka ngangguk.

“Gue tuh waktu di kamar suka ngomongin Kak David. Kak David tuh ganteng tauuuuu apalagi kalo abis mandi kan badannya bagus bangetttt gue suka ngeliatinnya.”

Saya Monic Eryn ngeliatin Vadio ama Priyanka. ‘You gay men.’

Dan dia bilang kalo Kamal itu juga ganteng, Arab manis. Tapi katanya ga seganteng Kak David. Mungkin karena Kamal tingkah lakunya hampir sama dengan seekor unta yang kehabisan air dan kedinginan.

“Iya, sebenernya kak Chandra juga ganteng tau kak. Tinggi berisi gitu, tapi ga terlalu ganteng kalo dari deket.”

Yak. Vadio. Yak.

Setelah kami mendengar cerita Vadio—yang alhamdulillahnya, dia setia suka ama cewek 3 tahun—kita dipanggil sama Chandra keatas, suruh main Boozled Jellybeans yang dibawa kak Aul. (itu permainan yang kayak makan permen dua rasa, kalo ga tau, liat film Harry Potter 1, ada rasa congek, ada rasa macam macam)

Dan sesampenya diatas, muka mukanya udah pada gaenak. Kayaknya dapet  zonk gitu. Dan bener aja. Tika dan kak Rizka selama permainan ga pernah dapet yang enak. Bahkan si Tika sampe nutupin mulutnya penuh derita.

“Tik, lu kenapa…..?”

Tika geleng geleng kepala.

“Tika abis makan rasa makanan anjing, bau banget!” jawab Sirot sebelahnya Tika.

Saya mau ngakak juga gaenak. Akhirnya permainan diputer lagi dan akhirnya sampe di giliran Chandra.

Chandra memutar panahnya dan akhirnya dapet warna putih, yang artinya dia akan memakan rasa popcorn—atau jika sial, dia akan makan telor busuk.

Akhirnya dia ambil satu permen warna putih itu, dan pas dikunyah, mukanya biasa aja, berarti gak zonk.

“Kalo ga telor busuk, ini rasa apa?” tanya Chandra.

“Popcorn chan.” Jawab Sirot.

“Popcorn!!!” Chandra menjawab sambil nyengir bahagia, masih ngunyah. Kita agak kecewa karena Chandra gadapet zonk.

Pas diputer lagi, tiba saatnya giliran Galih, dan saat Galih memutar panahnya, tiba-tiba Chandra sewot lagi,

“Eh tardulu! Kok lama lama gaenak sih!!!!”

“Coba cium mulut lu kak” kata Galih,

Chandra menghembuskan nafasnya ke tangannya dan menciumnya, mukanya jijik.

“IH BAU!!!”

“IH CHANDRA BOYOT ITU TELOR BUSUK BERARTI BUKAN POPCORN!!”

Berarti yang pertama tadi saraf perasanya Chandra sempet mati.

Chandra juga menghembuskan nafasnya ke Galih, Galih hampir mati.

Karena Galih dapet ga zonk, tiba saatnya giliran Jeremy, kebetulan Jeremy dapet warna biru, rasa enaknya saya lupa, rasa gaenaknya odol. Ternyata saat dia makan..

“Yes rasa odol.” Malah seneng.

Kemudian giliran kak Rizka kembali.

“Kalo gue dapet zonk awas aja…………….”

Akhirnya kak Rizka mengambil dengan hati hati salah satu permen tersebut….dan ketika melakukan gigitan pertama………….

Mukanya berubah jadi mau nangis.

Antara kasian sama pengen ketawa, kami ketawa sambil kasian jadinya, sambil bilang “ZOOONK”

“AAAAH ZONK LAGI! AUL! AUL!” Karena mukanya mau nangis, jadi kita bingung harus apa, tapi peraturannya emang harus diabisin…

Sampe akhirnya, Eryn dateng, dan langsung suruh nyobain main.

Ketika dia ngambil permennya dan makan di mulutnya, dia langsung mundur ke belakang dan mau muntah, udah beneran mau muntah, tapi semua orang ketawa gara gara Eryn dapet zonk. Dateng dateng langsung ngezonk, dan kayak kelabang dibakar menggeliat sana sini. Karena Eryn gaada yang ngasianin, jadilah Eryn wajib ngunyah permen itu.

Eryn nahan muntah,
Dan selanjutnya ada Sirot, yang memakan permen karet berwarna kuning keorenorenan—yang artinya, kalo dia gadapet rasa jeruk, ya rasa muntah.

Pas gigitan pertama, muka Sirot yang tadinya ‘I wonder if I could fly’, jadi ‘KETUBAN GUE PECAH!!!’

http://distilleryimage1.s3.amazonaws.com/f093126e29ce11e385ea22000a1fb8ef_6.jpg
Wajah Sirot paling pojok bawah


Ternyata dia dapet rasa muntah.

Terus ditengah-tengah. Mukanya sempet datar lagi, terus ngomong, “Eh kok enak sih…” dan beberapa detik kemudian bilang lagi “Eh gaenak deh!!!” mukanya berlanjut zonk.

Dan kemudian Chamila, yang saat itu beneran gamau ikutan karena takut, dan akhirnya sampe dipaksa paksa, dan akhirnya dia mau. Puteran pertama sih, dia selamat. Putaran kedua…..dia dapet warna merah, dan reflek, Chamila ngelempar permen itu sambil teriak.

Setelah permennya dilempar Chamila.

“AAAA!!!!!” udah kayak megang bom kentut.

Soalnya, kalo permen itu bukan rasa stroberi, itu dapet rasa kaki seribu, dan kata Sirot, kaki seribu itu rasa yang paling gaenak dan zonk banget. Soalnya Sirot pernah nyobain, dan mulutnya bau banget.

Dan karena emang permen itu baunya udah gaenak, akhirnya dengan tidak lazim, Chamila nelen itu permen pake air. Lu kira obat sakit perut mil.

Dan yang paling kasian itu adalah kak Rizka dan Tika, yang selama permainan gapernah makan yang enak, sampe mukanya udah pengen nangis kejer dan kayaknya mau muntah semua. Mulutnya udah bau apaan tau itu. Dan lebih kasiannya lagi, mereka di dare buat megang tangan 2 cowok anak 78, dan sambil ngomong

“Aku sayang kamuHHHHHHH” yak H-nya pake aksen biar wangi semerbaknya kecium. Tentu saja ini idenya kak David.

Setelah main permainan terseru 2013, dan menjadi sebuah pengalaman terasyik selama karantina karena saat itu semuanya bener bener ngumpul di kamarnya kak David, kelas 11-nya rapat STAK sebentar, kemudian berkumpul di meeting room tempat kami biasa latihan. Sore keakraban, namanya.

Pokoknya di ruangan itu, kami saling kenal sama anak-anak dari sekolah lain, dengan 2 permainan. Yang pertama sih gangerti apaan…serius dah, soalnya Cuma main pegangan tangan, terus megang pundak temen didepannya terus jalan jalan sambil nyanyi ‘Disini senang disana senang dimana mana hatiku senaaaang’ terus muter muter sampe Eryn harus minum obat dan diinfus.

Bahkan, ada yang nyanyi “Sarijeeeem……………..” and I was like ‘What was that?’

Tapi yang kedua, ketika disuruh membentuk kelompok yang terdiri dari anak anak yang beda sekolah, itu seru banget. Soalnya selain ketemu temen baru, Gema SMA Jakarta jadi punya semacam ‘lagu kebangsaan’ yang diinget terus, yaitu ‘Sepatu Bau’

Saya sekelompok sama Marles, Monic, sama……….tunggu, Eryn kok masih ada?

Dan pokoknya, karena saya pikun, saya cuma inget saya sekelompok sama Amel, Eca, Resti, Feli. 3 orang lagi lupa namanya…maafkan diriku. Tapi aku selalu mengingat wajah kalian kok :)

Dan setelah itu, kami melepas sandal sebelah kami, kemudian dengan instruksi berupa nyanyian ‘Sepatu Bau’ yang nyanyiannya gini :

“Sepatu bau putarlah terus sepatu bau putarlah terus sepatu bau putarlah terus putarnyaaa ke kiri ke kanaaaan”

Dan kita harus memutar sepatu atau sandal kita kearah kanan, dan ketika ada kata kata arah ‘kiri’ atau ‘kanan’ (ganti arah gitu), kita harus cepet cepet muter arahnya, dan kembali meneruskan putarannya. Dan setiap orang dalam kelompok itu harus megang satu sepatu, kalo ada yang dapet dobel atau gadapet sepatu, berarti salaah.

Kalo kelompok saya, karena baru pertama kali ketemu langsung kompak, jadi kita paling lancar. Iya, lancar ngacak-ngacak sepatunya saking ancurnya.

Kita juga malah ketawa ketiwi sendiri gajelas.

Ada yang lagunya udah berhenti, tiba-tiba Eryn dapet 3 biji sepatu, terus akhirnya Eryn nyumbangin sepatu sepatunya itu kepada yang ga kebagian sepatu. Ada juga dimana Eryn memegang semua sepatu. Eryn klepto sepatu bau.

Ternyata walaupun cuma sebentar sama mereka, mereka anaknya asyik asyik semua..

Akhirnya mengetahui ini adalah event terakhir kita sebelum tampil, kita pun keluar dari ruangan sambil dadah dadah satu sama lain.

Nah saat makan malam, Swarna Gita duduk di meja yang digabung, kemudian makan bersama disitu sambil ngobrol dan ketawa ketiwi sana sini, ketika Chandra dateng, dan ga kebagian tempat duduk. Akhirnya, dia ngomong sama kak David,

“Liat ya, gue duduk sendirian disitu, nanti ada yang nyamperin.”

Kak David iya iya aja.

Ekspetasi : Tiba-tiba wanita wanita mendekati Chandra sambil minta nomor telefon Chandra, dan Chandra akan dengan sombongnya menjawab, “Im sorry, I already have a cow.” Mengetahui Chandra adalah peternak sapi, wanita itu pergi.

Reality : Chandra didatengin kucing.


Setelah itu, kami  kembali ke kamar masing-masing, dan menggabut dulu selama beberapa jam sambil ngegalau di hari terakhir tidur di kamar 334 (saat itu playlist-nya adalah beberapa bunyi yang ditimbulkan Eryn).

Karena perut masih memberontak, akhirnya saya bawa kencur bekel dari mama saya dan duduk duduk di kamar adek kelas yang saat itu lagi tidur dengan kaki yang digelantungkan keatas.

“Nih, mau makan kencur ga? Biar besok suaranya enak.” Saya nawarin ke adek adeknya, paling semangat sih si Loren,

“Mau dong kaaaak” akhirnya Loren ngambil kencurnya dan ngeremus dengan asyiknya. Kayaknya sih enak.

Akhirnya saya sama Eryn ngambil satu, terus gigit bareng bareng.

Ekspresi awal Eryn :  Justin Bieber


Ekspresi akhir Eryn : Scooby Doo.

Si Eryn langsung berontak sana sini mau muntah, katanya ga kalah zonk daripada permen yang tadi siang. Terus abis minum sedikit sari dari kencurnya, dia ngelepeh kencurnya.

Kalo saya sih diem, sambil ngeremus kencurnya. Padahal sih dalem hati : ‘Kumis tikus. Buntut kucing.’

Dan Chandra pun juga sama pas lagi ngeremus kencur. Mukanya sok tegar banget.

“Enak chan?” tanya Monic.

“Enak! Enak banget!” Chandra sok tegar. Air mata tampak di sudut matanya.

“Mau lagi chan?”

“Oh ngga udah kenyangg udahh”

Dan setelah ngeremus kencur yang sungguh enak itu, akhirnya Rachel bilang,

“Kak, pada mau nitip apa? Mamaku mau kesini..” tanyanya. Karena otak error karena kencur, saya nyeplos,

“Pizza dek”

“Pizza? Oke deh kaaak”

“Eh bercanda!!!”

“Gapapa kaaak nanti aku minta bawain beneran kak”

“Oh yaudah gapapa”

Dan saat itu, ada panitia yang masuk kamar adek kelas, karena panik, kami langsung kabur.

Ternyata, kamar kami juga diketok tapi gaada orangnya…zonk.

Akhirnya, panitia itu kembali masuk,  and guess what…………..

Kita dikasih honor…..

Karena gapernah dapet gaji, kami seneng, soalnya jumlahnya juga gabisa dibilang sedikit kalo buat anak ingusan kayak kita…

Well, gapapadeh karantina 10 hari juga :)

Dan akhirnya, sekitar jam setengah 11 atau jam 11, kami pesta pizza di kamar adek kelas, tidak lupa memberi jatah bagi yang laki laki.

Dan pas itu, ada bau bau tidak sedap.

Karena nama baik orang ini tidak boleh dicoreng karena suatu hal, jadi sebut saja dia Rizka

Untungnya adek kelas bawa pengharum ruangan yang green tea, jadi kita makan pizza ga keracunan saat itu….

Tapi emang perut Rizka lagi bermasalah, jadi maklumin aja, kalo Shintya yang kentut mah matiin aja.

Akhirnya setelah makan pizza, kami pun kembali ke kamar masing-masing untuk keesokan harinya, hari yang ditunggu-tunggu, dan hati gembira karena baru pertama kali dapet honor.



Selasa, 1 Oktober 2013.


      Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu dateng juga.

Karena jam 2 harus udah bangun, fajar-fajar itu, saya dapet pelukan jalinan kasih dari Tika, sambil diucapin “Happy birthday Miraaaaaaa”

Ohiya saya ulangtahun.

Kalo gadiingetin Tika gainget.

Yak, saya berterimakasih sangat kepada Tika karena mengucapkan yang pertama kali di pagi buta ini, dan akhirnya Tika mandi duluan, dan saya harus berusaha membangunkan The Three Musketeers yang lagi tidur ini. Paling sukar dibangunkan : Eryn.

Udah ditusuk tusuk pantat sama udelnya, tetep aja tidur. Palingan bangun cuma buat ngeliat dia masih di Jakarta apa udah di Italia. Ya iya tidur lagi lah.

Akhirnya setelah saya membisikkan kata kata maut di telinga Eryn(?), Eryn bangun. Alhamdulillah.

Akhirnya setelah saya mandi, saya dan Tika dandan duluan, Monic Marles Eryn belakangan.

Jam setengah 3 akhirnya kita di make up-in sama dibenerin kain bawahannya, kemudian setelah sarapan roti yang harus cepet ngabisinnya, dan minum madu, kami langsung cao ke bus.

Karena di perjalanan saya tidur, jadi sampenya ga kerasa…

Turun dari bus, Dhea langsung meluk saya dan ngucapin selamat ulangtahun, diikuti juga dengan wishes-wishesnya yang saya aminkan, kemudian semua teman teman seangkatan SwarnaGita 18 ikut mengucapkan, dan juga adik adiknya, aaa terimakasih kaliaaaan, pagi pagi begini sudah bikin terharu (padahal ga diapa apain)

Setelah itu, kami masuk kedalam, ada security check juga kayak di bandara, yeeeyyy. Pantesan Eryn sama Monic gelisah banget dibelakang. Ternyata ada security check. Soalnya biasanya kalo masih pagi gini mereka masih jadi Bambang sama Marto.

Akhirnya setelah masuk, ada penetralisasian dulu, jadi kita keluar lagi. Kita memanfaatkan kesempatan ini untuk ngeliat…………. Angkatan udara.

Dan Eryn juga saya ngeliat kakak kakak yang manis kemaren. Rachel yang dari kejauhan langsung lari lari dan nyamperin kami.

“KAK! ADA KAKAK YANG KEMAREN!!”

“IYAAA DIA PALING DEPAN AAA!”

Berisik banget sumpah.

Yap, langsung aja ke bagian dimana kita pemanasan..

Akhirnya, bapak-bapak pemain orkesnya berdatangan, semuanya tampak kece kece dengan jas hitam dan serba hitam kecuali dasinya yang berwarna emas.

Kemudian kami melihat Bu Indri yang cantiiiiiiik banget pagi itu, sehari harinya cantik, dandan begini tambah cantik, dan Pak Agus juga c—ganteng sekali menggunakan jas.

Setelah pemanasan, akhirnya kami membawakan beberapa lagu untuk persembahan lagu bagi tamu-tamu yang datang. Dan seperti yang dilatih kemarin, penampilan kita hari ini jauh lebih baik dari yang kemarin kemarin. Jadi terhura.

Tamu-tamu satu persatu berjalan di red carpet, dan tampak gagah dan anggun ketika berjalan. Ada bule juga. Ada cogan banyak….ah, fokusku teralih. Untung ngeliatnya pas lagi ga nyanyi. Dan saat itu saya sama Eryn lomba banyak banyakan nyari cogan. Kayak boyot.

Akhirnya upacara pun dimulai.

Seperti gladi bersih kemarin, satu persatu peserta upacara datang, kali ini lebih baik daripada gladi bersih kemarin.

Dan akhirnya setelah menunggu cukup lama…..

Kami yang berdiri disana, dapat melihat media dengan kamera memotret pada satu pusat.

Yap. Kami melihat sendiri Presiden RI dan wakil Presiden RI berjalan di karpet merah dengan gagahnya.

Kami bahkan belum bisa percaya bisa mendapat kehormatan berdiri disana dan bernyanyi didepan orang-orang penting di Indonesia.

Upacara pun dimulai dengan hormat, laporan, dan salam kebangsaan.

Kemudian persembahan lagu, Garuda Pancasila dan Bangun Pemudi Pemuda. Yang kami menyanyikannya pun lebih power dan semangat, juga dinamikanya lebih dapet daripada yang kemaren. Smile-nya pun juga tidak lupa, karena tentu saja kami semua senang sekali bisa berdiri disini.

Setelah berdiri melihat berjalannya upacara yang sangat khidmat di Lubang Buaya itu, akhirnya, kurang dari 1 jam, upacara selesai.

Di penghujung acara, akhirnya Bapak SBY, Ibu Ani, Pak Boediono, Ibu Herawati, dan pejabat-pejabat Negara seluruhnya berjalan diatas karpet merah……………dan seluruh mata tertuju pada kami. Terutama Pak SBY yang hanya berjarak beberapa meter dari kami.

Lagu pertama yang dibawakan adalah lagu beliau, yaitu Bangga Menjadi Anak Indonesia, dimana Pak SBY melambaikan tangan kepada kak David versi mini, dan pasti dia sangat bahagia karena disapa oleh orang nomor satu di Indonesia.

Dan kerennya, kami bernyanyi sangat semangat, dan hampir tidak ada cacat samasekali, dinamikanya udah dapet, dan pokoknya gatau lagi deh deskripsiinnya gimana….keren banget! Eryn aja sampe nangis didepan..

Dan yang paling membuat kita semangat lagi ketika Bapak Presiden terlihat sangat senang lagu ciptaan beliau dinyanyikan. Apalagi saat Pak Fredi—yang selama latihan sangat serius dan jarang melempar senyum—kini memberi kita semangat dan senyum terus sambil terus mengonduct. Itulah kenapa kita tambah semangat lagi dan nyanyinya lebih bagus.

Dan lagu kedua, Gugur Bunga, dimana Bu Indri sebagai solist, dan ada kakak kakak yang main biola juga..

Dan kita membawakan lagu itu penuh penghayatan, dan serius dehhh gabisa deskripsiin lagi keren banget……..merinding hari itu juga.

Dan selesai kami bernyanyi dua lagu tersebut, Pak SBY langsung berterimakasih, dan kata-katanya gabakalan saya lupakan.

“Terimakasih semuanya. Musiknya bagus. Menyanyinya bagus. Everything is wonderful.” Dilanjutkan oleh kedua jempolnya yang diangkat keatas untuk kami….

Okay probably that was one of the best birthday present yah……….plus karantina……gabakal saya lupakan.

Well……………………….udah selesai, huh?

Selesai itu, Pak Fredi langsung maju deketin kita, dan berterimakasih pada kita semua karena udah nyanyi dengan hebat dan bagus, ga lupa senyum yang dilempar buat kami semua.

Dan setelah foto-foto per sekolah, foto foto sama kakak kakak taruna, foto foto sama paskibra, dan foto foto di gedung Kesaktian Pancasila……kami pun dikirim kembali ke Padepokan, yang artinya, tugas Gema SMA Jakarta udah selesai sampai disini….

Somehow, I feel I don’t wanna go home………..


Walaupun gitu, saya gagal foto sama Pak Agus karena beliau sudah pulang duluan…………………

“Jangan galau mir.” Monic yang nemenin saya, langsung nyemangatin.

“……………”

“Mir…”

“Tadi udah salaman plus disenyumin kok mon. Hehehehehe…….”

“Bloon. Sok tegar.”


Di bus, saya agak sedih, yaaa selain gabisa foto sama Pak Agus, gabisa nyobain masuk lubang buaya, dan gabisa foto sama cogan, saya juga sedih karena akhirnya karantina selama 5 hari ini berakhir sampe disini.

Udah gaada lagi yang numpang toilet….

Gaada lagi yang ngeboyot sekamar….

Gaada yang namanya Ngafgan bareng malem malem…

Gaada lagi video call-an ama bule Spanyol malem malem…

Gaada lagi yang main tepok nyamuk malem malem bareng temen temen….

Gaada lagi yang kabur kaburan dari Mas Bayu….

Gaada lagi yang ngantri makan pagi dan cepet cepetan ngambil teh panas sebelum musnah….

Gaada lagi yang ngetok ngetok pintu belakang dan harus ngegeser dengan sekuat tenaga…

Gaada lagi yang minta snack ke kamar…

Gaada lagi yang pup sambil curhat curhatan…

Gaada lagi bunyi orang yang mirip mainan Pou…

Gaada lagi latihan bareng bareng dan sharing antar sekolah…

Gaada lagi senam pagi sampe judulnya ganti jadi sprint pagi….

Udah gaada lagi sahutan “GEMA SMA JAKARTA????” “DUNG DUNG DUNG TAK JOS JOS!!!”

Yak… Im gonna miss those moments….masih euforia sampe sekarang..

Yup, akhirnya saya kembali lagi di galan. Dimana ada Shintya, Sarah, Bunga, Made yang kemarin hampir membunuh saya di Margo, dan banyak lagi.

Tapi, kalo diizinkan ngulang waktu, saya bakalan minta ngulang dari 26 September – 1 Oktober, dan gabakal wasting any moment lagi. Termasuk mandi pagi (Tika style).


Ah udah ah jadi mellow….

Terimakasih kado ulangtahun selama 5 harinya, Swarna Gita!!

Sekian pengalaman karantina ini, salam remedial!!!

Embedded image permalink
Gema SMA Jakarta 2013 .....cowoknya kepotong. Aslinya bejibun.


Naomira Azalia.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar