Laman

22 Mar 2014

Hunger Games banget apa gimana?



Haluuuu

Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menulis sebuah cerita yang gapenting sifatnya.

Inilah jadinya kalau salah satu keturunan dewa Zeus, Shintya Ayu Lestari, dan salah satu keturunan Poseidon, Dhaifina Ghassani, yang notabene sama sama rusuh, malu maluin, dan of course tepok pantat, main di salah satu acara TV favorit kita, Hunger Games.



141231th Hunger Games


            Hari Pemilihan sudah dimulai.

            Semua anak-anak dari Distrik 12 berkumpul untuk mendengarkan apakah namanya disebut untuk maju ke permainan yang asyik, lucu, seru, emesh, dan tentu saja bisa bikin mati itu.

            Salah satu dari anak-anak itu, terdapat wanita cantik masih muda yang cantiknya kalo dari belakang saja, Shintya Everdeen, yang datang kesana bersama adiknya, Rayzi Everdeen.

            Kemudian wanita nyentrik dengan busana yang ribet itu maju kedepan microphone, dan mulai ceramah. Wanita itu bernama Bunga.

            “Yak. Beruntung sekali saya bisa kembali berdiri disini, di distrik 12 tercinca. Di kesempatan yang bahagia ini, saya tahu kalian sangat sangat sangat bahagia menyambut permainan ini. Jadi mari tepuk tangan dulu.”

*diem*

“Meriah sekali. Baiklah. Saya akan mengambil pria dan wanita untuk maju ke permainan. Siap siap yach.”

Kemudian Bunga memasukkan tangannya kedalam sebuah toples yang berisi banyak kertas kecil, dan mengambil salah satu.

“Untuk peserta wanita,”

Bunga membuka kertasnya…..

“Rayzi Everdeen.”

“TIDAAAAAKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Jerit seorang gadis kecil yang ternyata adalah Rayzi.

“TIDAK! TIDAK! TIDAK!” semuanya tampak protes. Semua membela Rayzi. Semua orang cinta Rayzi.

“KAKAKNYA AJA! KAKAKNYA AJA!”

“IYA! SHINTYA AJA! SHINTYA AJA!”

“YA!!! DIA AJA YANG MAIN!! DIA AJA YANG BUNUH DAN DIBUNUH!!!”

“YA!!! MASUKKAN SHINTYA!!! JANGAN RAYZI!!!”

“YA!! MASUKKAN DIA! DIA HINA!!!”

Shintya, kakaknya, yang tadinya lega banget gadipanggil. Sekarang berbisik, “Hanjeng.”

Akhirnya Bunga bilang “Oke, Shintya Everdeen maju ke permainan ini.”

Dengan rasa benci pada Rayzi, Shintya maju kedepan disamping Bunga. Mukanya mau nangis. Padahal nahan pup.

“Untuk peserta laki laki…”

Bunga mengambil satu kertas lagi, dan membacanya……….

“Bude Mellark.”

Perasaan lega membanjiri mereka semua yang tidak terpanggil namanya.

“YES!!!!!” seru Bude, si peserta laki lakinya.

Semuanya tampak bingung.

“Kok lu pada ngeliatin aneh gitu sih? Ayo semangat dong! Gile lo gue seneng banget ikutan ginian!” seru Bude semangat

Jadi Bude itu masih mengira kalo dia dapet doorprize.

Dengan semangat Bude maju kedepan. Kemudian tersenyum pada Shintya yang masih menahan hajat.

“Hai bro, Bude bro. Lo siapa?”

Shintya memandang Bude aneh.

Akhirnya mereka pun dipersiapkan untuk permainan.


*

Kereta melaju sangat kencang. Didalamnya, ada Bude dan Shintya yang sedang bercengkrama di meja makan.

“LAH? JADI INI BUKAN DOORPRIZE?”

“Bukan bego. Kita disini buat bunuh bunuhan. Pokoknya yang bertahan paling lama, menang dah.”

“Yailah gue males banget kalo bunuh bunuhan. Masalahnya pasti gue kebunuh duluan!” keluh Bude pada Shintya.

“Lah gua belum mulai aja udah dibunuh secara gerilya kali.”

Bude geleng geleng kepala. “Kok lo mau sih pergi demi adek lo?”

“Lahilah tong, gua juga ga mau keles.”

“Lo pasti sayang sama adek lo.”

“Gue benci sama adek gue. Dia kerjaannya kalo ga goyang pantat ya ngatain gue mulu.”

“Hah? Ngatain gimana?”

“’Mandul lu ya kak’. Gitu”

Setelah berbincang bincang dan bikin yel yel (karena setau mereka tiap grup harus bikin yel yel minimal 10 menit), akhirnya Bunga datang bersama seorang pria yang mukanya kayak hiu.

“Anak anak, ini Ivan Abernathy. Dia itu juara Hunger Games dari distrik kalian juga. Nah ayo say hello.” Kata Bunga.

“Hello, my name is Ivan. My hobby is angkat barbel, eat paku, drink susu with telur, and my cita cita is to be a kucing. A cute kucing.” Katanya dengan gagah dan cool.

“Hai Ivan, aku suka tepok pantat.” Sapa Shintya.

“Aku juga suka.” Sapa Bude lagi.

Tiba-tiba mereka menampilkan yel yel mereka selama 10 menit. Awkward.

*


“Jadi, kalian akan menghadapi 11 distrik. Setiap distrik ada 2 orang. Semuanya berbahaya. Semuanya dilatih untuk membunuh. Semuanya ingin membunuh kalian berdua. Jika kalian berdua tidak kuat seperti aku, kalian akan mati. MATI. MATI. Mati. Mati. Mati.” Jelas Ivan.

“Lalu bagaimana caranya untuk menang?”

“Yang jelas, kalian gaboleh yel yel kayak tadi, karena menimbulkan percikan perhatian dan akan menimbulkan rasa benci pada kalian yang akhirnya mereka akan bekerja sama untuk membunuh kalian.” Jelas Ivan. Bude dan Shintya mengangguk angguk.

“Jadi, kalian harus memiliki seenggaknya satu kelebihan yang menurut kalian paling spesial, untuk melawan mereka semua yang hina itu.” Ujar Ivan. Shintya mengangguk antusias

“Aku bisa memanah!” seru Shintya berapi api. Ivan tepuk tangan.

“Bagus!”

“Gua bisa berantem pake tangan kosong!” seru Bude semangat.

“Good good”

“Gua bisa menyemburkan bola api!” seru Shintya

“Lah gua bisa Rasengan!” seru Bude

“Hanjir lo gue bisa Wingardium Leviosa!” seru Shintya

“Apaansih, gue bisa berubah jadi Werewold!” seru Bude

“Apaansi semua film aja lu sebutin!” Ivan kesel.

*

“Yak. Kalian hari ini akan  dipertunjukkan didepan Presiden Haswin. Tau kan? Yang mangkak itu?” kata Ivan. Mereka berdua mengangguk.

“Nah, kenalin, ini Vito, perancang busana kalian.” Ujar Ivan menununjuk pria tinggi kekar imut lucu emesh ndut conyo di sebelahnya.

Shintya langsung terpukau melihat ketampanan Vito. Saat itu dia berjanji dalam hati tidak akan tepok pantat lagi. Sementara Bude bitbox biar ga bosen.

“Hai, aku Shintya Everdeen” Shintya mengulurkan tangannya.

“Hai jeng, eke Vito bo. Situ Shintya yang suka ngupil pake jempol kaki itu? HAHAHA keliatan bo.” Vito kemudian menjabat tangan Shintya dan Bude.

Shintya akhirnya batal untuk stop tepok pantat.

“Aku udah bikinin tuh ya kostum cakep buat kalian berdua. Ntar minta Bunga buat pakein oce.” Ujar Vito. Terus dia pergi. Gabut banget.

Akhirnya, mereka berdua ke ruang ganti. Terus keluar lagi.

“ADUH KALIAN CAKEP CAKEP BENER PAKE KOSTUM BIKINAN EKE. Emesh deh ihhhh” Vito mencubit pipi Shintya dan Bude.

Shintya tampak hampir cantik mengenakan gaun hitam panjang yang membuatnya susah berjalan, dan Bude tampak seperti ninja menggunakan tuksedo hitam. Bener aja abis itu dia loncat naik ke kursi kemudian jongkok seperti ninja.

Akhirnya mereka pun naik ke kereta kuda. Didepan mereka banyak sekali peserta lain yang mukanya sangar.

“Jangan lupa senyum oke” ujar Bunga. Shintya ngangguk, Bude juga.

“Senyum, bukan muka ngeden.”

Yak, setelah itu kereta kuda pun berjalan, Shintya sama Bude pegangannya keras banget takut jatoh.

Mereka bisa melihat wajah Haswin yang mangkak so much memandangi mereka dari atas tebing (tebing?)

“Itu presidennya?” tanya Bude.

“Kayaknya itu pembantunya deh.” Jawab Shintya

“Ah ngga ah itu presidennya!”

“Gua sembur bola api lu. Itu pembantunya!”

Tiba-tiba baju mereka keluar api.

“Eh eh hanjir! Ini kenapa!! Kok kebakar!!!” Shintya panik

“KITA HARUS MINTA TOLONG!!!”

“TUH KAN KITA DISERANG GERILYA!!!”

“TOOLOOONG! TOLOOONG!!!!” teriak Bude

Seluruh peserta ngeliat ke belakang semua, kereta Bude sama Shintya rame sendiri, grasak grusuk sana sini, mau turun takut nanti gelinding, mau disitu ntar mati.

“Aduh kok mereka bego banget.” Kata Vito. Akhirnya Vito matiin apinya.

Bude sama Shintya tertegun. Mereka menatap satu sama lain, kemudian berpelukan.

“OWWWWWW, SEPASANG KEKASIH DARI DISTRIK 12!” seru pembawa acaranya, Lifia.

Bude dan Shintya melepas pelukannya kemudian melihat Lifia yang berapi api menyebar gossip.

“MEREKA KOMPAK SEKALI SODARA SODARA MENATAP SAYA DENGAN PANDANGAN LEGA!”

Bude jiji.  “GA! DIA BUKAN PACAR GUE! DIA AJA BARU KENALAN SAMA GUE KEMAREN!” Bude berontak.

“Eh, jangan gitu!!!!!” bisik Shintya, mukanya dijelek jelekin. Apa emang gitu shin?

“KENAPA? LO NAKSIR W Y?”

“KAGA. Gini, kalo kita pura pura pacaran, penonton akan tersentuh dengan kisah cinta kita yang tragis harus berada di Hunger Games ini! Ayolah kita pura pura dulu! Nanti kita dapet sponsor banyak!” jelas Shintya

“Ih ogah ah.” Bude berontak

“Gua kentutin lu ntar pas lu tidur”

“Oke kita pacaran.”

Mereka pun langsung pegangan tangan terus lambai lambai ke Lifia.

“LIHAT! MEREKA BERPEGANGAN TANGAN! SUNGGUH PASANGAN YANG HARMONIS! SUNGGUH MEMILIKI TORSI YANG SANGAT BESAR!”

“WOE DIEM LU!” Bude sama Shintya berontak denger kata kata torsi

“KOMPAK SEKALI, SAMA SAMA MEMBENCI TORSI!”

Akhirnya mereka berdua ditatap sinis oleh si mangkak Haswin.

Mereka menatap balik, kemudian dadah dadah.

Apaansi random abis.

*

“Kalian berdua harus cakep! Ini interview sebelum kalian masuk ke lapangan! Shintya! Jangan garuk garuk pantat sekarang! Bude, plis stop main ninja ninjaan!” Bunga pusing

“Tapi, bung, sumpah ini gaun bikinan Vito gatel so much. Dia kemaren mau bunuh kita, sekarang bikin gatel gatel kita.” Keluh Shintya.

“Shin, Vito udah ngelakuin yang terbaik buat lo dan Bude! Udahlah ikutin aja. Btw itu gaun kayaknya nyembur api lagi. Hati hati ya.”

“Punya gue juga ga?” tanya Bude.

“Ngga kayaknya. Lu berontak mulu sih.” Kata Bunga.

“Yes.”

“Shintya! Ayo cepet ke belakang panggung bentar lagi giliran kamu!” panggil Ivan.

Akhirnya Shintya pun dipanggil oleh Lifia untuk interview.

“AAHAHAHAHAHAHAHA HALUUU SHINTYA EVERDEEN! CANTIK SEKALI MALAM INI !”

“Ya ampun thx guyz lo pertama kali yang bilang gue kyk gitu.”

“Terpaksa. Abis acara tv.”

“Tampar gue skrg.”

“YAK, SHINTYA EVERDEEN! Dengar dengar kau menggantikan adikmu ya?”

“Iya….”

“Seberapa besar sayangmu pada adikmu, Rayzi?”

“Kalo dibilang sayang sih… nggak ya. Tapi, saya sebenernya dipaksa untuk jadi sukarelawan menggantikan dia. Kampret ga tuh?! Matiluji.”

“WOW WOW, Tolong…”

“Gabisa ini gabisa dibiarkan ini, gabisa gabisa!!!!!”

“Tenang tenang Shintya!!!” Lifia berusaha menenangkan Shintya yang nafasnya memburu.

“Jadi….gimana sekarang, apa motivasi anda untuk menang?” tanya Lifia lagi.

“Ya….Insya Allah kalo menang banyak yang naksir, banyak yang ga ngeliat dari belakang aja, banyak yang deketin, banyak yang menerima apa adanya, terus kalo udah gitu saya mau kawin deh. Yey.”

“Motivasi yang keren sekali Ms. Everdeen! Oh ya… bagaimana hubungan Anda dengan…Bude Mellark?”

“Ya saya dan dia baik baik saja.” Jawab Shintya singkat. “Tolong gausah pake blitz kameranya ya ini gabisa diumbar , ini privasi.”

“Oh wow…. Baik, terimakasih Shintya… Anda boleh kembali ke belakang panggung. LADIES AND GENTLEMEN, SHINTYA EVERDEEN!!!”

“YEYYYY I LOVE ME!!!”

Tiba-tiba gaunnya kebakar.

“HANJENG VITO!”

Seharusnya ada sensor.


*

“Bude Mellark, wow, Anda sangat menawan dari dekat ya ternyata.” Ujar Lifia

“Iya emang saya menawan banget.” Bude tebar pesona, cewe cewe teriak teriak. “BERISIK BERISIK!” bude berontak lagi.

“Jadi, bude, apa yang memotivasi anda disini?”

“Gapunya motivasi gua.”

‘Loh kenapa?”

“Lah orang gua kira gua dapet doorprize pisan”

“Doorprize apa bude?”

“Jadi kemaren kan gue menang lomba balap babi ya, terus gue disuruh ambil doorprize gitu, nah gue kira doorprize nya apaan taunya disuruh bunuh bunuhan. Ya gaada motivasi lah gua!”

“Oh gitu…tapi tidak adakah motivasi sedikit?”

“Ada…”

“Apa itu?”

“Makanan disini enak enak…”

“-_- Shintya ga memotivasi?”

“Dia mah bikin ngedown.”

“Loh kalian bukannya pacaran.”

‘Baru kemaren si..doain aja ga langgeng yak.”

“Haaha……………..oke, terimakasih banyak, Mr. Mellark ladies and gentlemen!!!”

*

Hari itu pun tiba

Hari dimana Hunger Games akan dimulai

Sang Gamemaker, Edo, loncat loncat kayak kutu saking senengnya kalo dia akan memimpin permainan ini. Dia semangat banget mau bunuh bunuhin orang. Apalagi dia gasuka sama distrik 12 yang cewe. Konon katanya dia pernah phpin Edo.

“Akan kubalas kau Shintya!”

Shintya diantar Vito ke Tube dimana mengantarkan Shintya ke lapangan permainan.

“Shintya, good luck ya.” Bisik Vito lirih.

Shintya menatap mata Vito dalam dalam.

“To….”

“Ssssh….udah, gausah ngomong apa apa lagi. Lo akan baik baik aja disana.”

“To….gue butuh lo.”

“Gue ga butuh shin. Lo butuh keberanian lo sendiri.”

“To tapi gue takut….”

“Ssssssh.” Vito mendiamkan Shintya dengan jempol kakinya. “Gue emang gaboleh bertaruh. Tapi kalo boleh, gue akan bertaruh untuk…Bude, shin.”

Shintya diem.

“Kok bude.”

“Soalnya Bude lebih meyakinkan. Jurus ninjanya banyak.”

‘Itu mah gegayaan dia doang anjir. Udah ah. Mati lu.”

Akhirnya Shintya masuk ke Tube.

*

20, 19, 18, 17…


“Semua bersiap..” Edo ambil aba aba.

16, 15, 14, 13, 12….

“Inget, gaboleh ada kesalahan kayak waktu itu.”

11, 10, 9, 8, 7…

“Tahun ini kita harus berhasil membuat semua penonton tercengang!” serunya berapi api

6, 5, 4, 3, 2…

“Tar dulu ada upil.” Edo ngupil, meper ke sebelahnya

1…

DOR!

Bude tidak langsung mengambil senjata yang berkumpul didepannya, dia kaget dulu.

“Astagfirullah! Kalo ada orang jantungan gimana?! Ahelah sebel gua sebel gua sebel sebel!” terus dia ngambek. Gamau ngambil senjata, akhirnya dia sambil menangis dia melewati ranjau ranjau ditanah dan lari ke hutan, butuh waktu untuk sendiri.

Sementara Shintya idungnya kembang kempis.

“Hueeee” dia pasang muka nangis.

Akhirnya dia lari ngambil tas yang bekas orang jatoh gara gara di panah, terus bawa sambil nangis nangis gara-gara takut denger bom.

Belum sempat Shintya lari, ada anak panah yang melewati kepalanya. Shintya terkejut. Ia menoleh dan mendapatkan ada seorang wanita yang tidak lebih jelek darinya tersenyum sinis, dan hendak melempar sebuah kapak.

“APA LU!!! HUEEE!” Shintya nangis tambah kenceng. Cewe itu bingung. Shintya ngepelin tangannya, gaya mau mukul

“Aku pukul ni pukul!!! Bilangin mama ni! Hueee!!!!!” Shintya makin nangis.

Cewe itu mikir ini orang gila.

Belum sempet cewe itu melempar kapaknya, Shintya duluan ngelempar batu gede. Mati deh cewenya.

“ASTAGFIRULLAH AKU KHILAF. GASENGAJA MBAK MAAFIN!”

Yak terus dia lari.

*

Bude terus berlari, berlari dan berlari.

“Hah, dimana nih. Mampus gua tersesat.”

Ia bingung harus kemana, semuanya pohon, semuanya warna ijo.

“Gila ini lebih susah daripada UN” Bude berlari lagi, mencari cari jalan untuk keluar.

“Gaada orang apa yak. HALUUUUUU?” Bude tak kunjung menyerah.

“Ah yaudahlah daripada gabut gua nari Heavy Rotation aja.”

TERETETETERETETERETETETRETE

“I WANT YOUUUUU”

Tiba-tiba ada musuh yang ngelempar panah, kebetulan Bude lagi joget miring kesamping,  jadi meleset.

I NEED YOUUUUUU”

Musuh itu tak gentar, ia meluncurkan anak panah lagi, tapi Bude menegakkan tubuhnya, meleset lagi.

“I LOVE YOUUUU!”

Musuh meluncurkan anak panah lagi, kesel so much, tapi Bude malah bungkuk. Meleset lagi.

HEAVYYY  ROOTAATIOOONNNN!!”

Ketika musuh itu hendak meluncurkan anak panah lagi, tiba-tiba gelang berbentuk gerigi yang dipake Bude lepas, terus kena matanya. Mati deh. Yey.

“Haduh capek juga exercise dance geto. Lanjutin jalan ahh.” Bude bersemangat lagi.

*

Hari mulai gelap, Shintya mulai mau bobo.

Sebelum bobo, dia kebingungan nyari air, bekaus si is aus so much.

“Mungkin ini saat saat yang gue takutkan terjadi. Ketika lo harus minum pipis sendiri untuk bertahan hidup…noooooo gue gamau pipis gue beracun so much.” Shintya mulai putus asa.

Shintya terjatuh di kedua lututnya, ia mengusap dahinya, menatap langit gelap tanpa bintang, wajahnya gelisah.

“Ya Tuhan, jika ia jodohku, maka dekatkanlah ya Tuhan…”

Tiba-tiba ada suara kerincing kerincing.

Shintya seneng banget suara gituan.

Ternyata ada box

Shintya membuka kotak itu, kemudian melihat isinya

Wawww botol minum. Tulisannya dari “I”. udah pasti ini dari Vito!

“Terimakasih Ya Tuhan… Vito memang jodohku.”

Kemudian dengan liar Shintya meminum air itu.

Kemudian dia menyiapkan sleepingbag untuk bobo.

Shintya kemudian membaringkan tubuhnya dan bobo dengan senyuman di wajahnya.

Lagi enak enak tidur, ada suara jeritan, suara tebasan pedang, suara orang merintih minta tolong, suara kuda, suara babi, suara lebah, suara semut, dkk.

Shintya mukanya bete,

“Berisik bgt kayak pasar. Gatau orang mau bobo enak apa. Kayak diapain aja itu orang. Hih gatau etika. Kemping kok gangguin orang lain.” Terus dia bobo lagi.

*

Bude mendengar meriam sebanyak 5 kali,

Jika ditotal, sudah 20 meriam yang dia dengar selama permainan dimulai.

“Mubazir banget buang buang meriam cuma buat ngagetin dari awal doang. Gue udah ga takut! GA TAKUT!!! EDO! LIAT MUKA SAYA! SAYA TIDAK TAKUT!!!!!! SAYA PAKAI CARA UNTUK MELAWAN KAMU SEMUA!” Bude tiba-tiba jadi Arya Wiguna. Tijel abis. Tampar Shintya pls.

“Duh bosen lagi. Ngapain lagi yak yang enak. Joget udah. Belajar salto udah. Pura pura jadi ninja udah. Belajar saxophone udah. Ngapain lagi yak biar ga bosen.” Bude berfikir.

“Nyari Shintya aja apa ya. Yaudah deh.” Bude langsung mengambil tasnya, berlari lari senang sambil bitbox

*

Bude sampai di suatu tempat gelap dimana dia mendengar suara teriakkan yang sangat kencang.

“Suara naga air, aku sangat mengenal suara naga itu! Naga itu sangat langka! Aku harus mengabadikannya!” dengan mengabaikan fikirian tentang mencari Shintya, Bude langsung meluncur kesana pakai jurus ninjanya.

Ternyata di terowongan gelap, ia melihat Shintya sedang dicekek oleh seorang pria bertubuh besar yang berada diatasnya. Mukannya terlihat sangat marah. Shintya mukanya terlihat sangat……?

Bude hanya terkejut melihatnya,

Shintya melihat Bude, agak lega.

Tiba-tiba…


“CIE CIE! CIE CIE!!!” Bude nunjuk nunjuk mereka berdua sambil girang.

“TOLONGIN BEGO!!!” seru Shintya kesel.

“Oiyak. HIAAATTT!!” dengan gaya ninjanya, Bude berlari ala Naruto, tangannya ke belakang.

“RASENGAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Bude sok sokan niup tangannya biar ada angin kayak Naruto, terus tangannya digebukkin ke muka musuhnya.

Ya ga ngaruh lah,

“Bego!” Shintya kesel. Kekuatan amarahnya memuncak. Dia murka. Karena murka sama Bude, dia akhirnya melampiaskan kepada musuhnya. Dia meninju, memukul, membanting, kemudian sempet curhat sama dia kalo dia di phpin Vito, dengan serangan kentut maut, musuh itu mati.

“Yeyyyyy tinggal 1 orang lagi!!!!!!!!” seru Shintya.

“Kok lu tau?”

“Meriamnya udah 21 kali. Jadi tinggal tiga orang. Gue, elu, dan satu orang lagi.” Kata Shintya girang.

“Oh meriamnya itu buat orang mati! Kirain cuma buat ngagetin doang.”

“Lahilah tong…..aduh.” Shintya memegang kakinya yang tergores.

“Nape lau?” tanya Bude, menepuk kaki Shintya, Shintya meringis kesakitan.

“Sakit woe!!! Ketebas pedang.”

“Pedang siapa?”

“Gue sih, lagi mau sok sokan nyerang, keserang sendiri.”

“Oon. Yaudah lo berbaring! Pucet abis muka lu kayak bulunya Emeng.”

“Thank u semezta.”

Akhirnya, Shintya berbaring dengan bantal tas, dan Bude yang berada disampingnya. Lifia, komentatornya, langsung rame.

“Wah…..sangat menyentuh, pemirsa! Mereka berdua mencoba tetap menghangatkan satu sama lain ketika yang satunya lagi kesakitan!”

Realita :

“Shin, udah…kalo ga kuat, mati aja”

“Kalo ngomong gadiayak. Aduwwwww sakit tolong aku semezta.” Shintya mengeluh.

“Terus gue harus ngapain biar lo ga kesakitan?”

“Pijetin dong.”

“Mangkak lu kayak Haswin. Tau Haswin ga? Mangkak lu mangkak. Konyol!”

“Lu mau menang ga? Aduh udah ayo pijetin gapake lama!!!” shintya menarik tangan Bude, disuruh mijetin tangannya,.

“AWWWW LIHAT MEREKA! BERPEGANGAN TANGAN! MESRA SEKALI….TRAGIS SEKALI JIKA SHINTYA AKAN MATI DISINI.” Seru Lifia

Ivan yang menonton mereka merasa tersentuh. Ia pun pergi lagi untuk mencari sponsor.

*

Malam pun tiba, Bude masih mijetin tangannya Shintya.

Shintya ngorok.

Bude ngantuk pula. Tapi tiba-tiba ada suara kerincingan.

Bude keluar, kemudian melihat sebuah kotak.

Bude membuka kotak itu, dan mendapatkan semangkuk sup dan sebuah salep.

“SHIN!!! GUE DAPET HADIAH DARI FANS!!! Gila mereka capek capek ngirimin ginian ke gue. Makasih ya!!” Bude dadah dadah ke setiap sudut yang ada kameranya. Rusuh banget.

“Itu buat gue keles!!!!!!!!!!!!!!!!!” seru Shintya yang perutnya udah keroncongan, kakinya udah ga kerasa lagi.

“Buat berdua kali! Yaudah nih, makan sendiri!!!”

“SuapinL

“Hanjir gamau. Ntar wudhu gue batal.”

“Apaansik lu, tijel banget. Suapin sini. Gua gabisa makan sendiri.”

“Makan nih makan!” Bude nyekokin supnya, supnya masuk ke idung Shintya.

“AWWWWWWWWWWWWWWW ROMANTIS SEKALI MEREKA SUAP SUAPAN TETAPI MASIH BERCANDA! BETAPA MENYENTUH HATI!” Seru Lifia.

“Gila lu!!!! Kalo gue mati gimana?!” seru Shintya

“Ya gue menang lah.” Kata Bude.

“Binal abis.”

“Yaudah nih pake obatnya!”

“Olesin napa! Lu gangerti gua lagi sakit.”

“LAHILAH TONG!! NIH GUA OLESIN NIH!!!” Akhirnya Bude ngambil salepnya terus mengoleskannya dengan kasar di luka Shintya

“PELAN PELAN SEMEZTA!!!!!!!!!!!!!!!”

“AWWWWWW ROMANTIS SEKALI BUDE MELLARK MENGOLESKAN SALEP KE KAKI SHINTYA DENGAN LEMBUT DAN PENUH KASIH SAYANG!!!” Seru Lifia.

Edo, sang Gamemaker menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Ini tidak mungkin. Tidak mungkin Shintya move on secepat itu. Tidak. Ini tidak bisa terjadi.”

Edo kemudian berjalan ke salah satu pegawainya.

“Lepaskan makhluk yang mirip Shintya itu.”

Kemudian sebuah gambar visual Serigala berbadan gorilla itu pun muncul.

*

“WOWWW GILA! Ini harus ada di Apotik! 5 menit sembuh!” Seru Bude rame

“Lu ngolesin semuanya ya sembuh bego.”

“tergantung siapa yang ngolesin. Kalo gue yang ngolesin cepet sembuh shin.”

“Sembuh ya iya, ini kulit gua jadi kasar kayak badak.” Shintya kesel

“Yaudah lah ya, yuk jalan.”

Mereka berjalan berdampingan, karena bosan, mereka bernyanyi.

Seluruh kotaaa merupakan tempat bermain yang asyikkk, Bude!”

Oh senangnyaaaa aku senang sekaliiii!!!! Shintya!”

Kalau beginiiii aku menjadi sibuuuk! Bude!”

Berusahaaaaa mengejar ngejar diaa! Shintya!”

Matahari menyinariiii semua perasaan cintaa! Bude!”

“Tapi mengapaaaa hanya aku yang dimarahiiiii! Shintya!”

Di musim panas, merupakan hari bermain gembiraa! Bude!”

“Sang gajaaah terkena fluuuu pilek tiada henti hentinya! Shintya!”

Sang beruang tidurrr dan tak ada yang berani ganggu dia! Bude!”

Oh sibuknyaaaa aku sibuuuk sekaliiii!! Shintya!”

“Udah tamat dodol.”

‘Yah. Terus kita ngapain lagi?”

Kemudian ada suara auman yang aneh. Mereka menoleh ke belakang.

“Apa itu erangan dari Shiro?”

“Tidak mungkin, Shinchan mengikatnya dalam kandang.”

“Kalau begitu, apa itu?”

Tiba-tiba sebuah makhluk muncul dari balik semak semak. Bude dan Shintya terkejut.

“Kok mirip gua?!!” seru Shintya.

“LARIII!!!!”

Mereka pun lari lari gajelas, ke kanan kiri, loncat, menunduk, istirahat sebentar curhat, lanjutin lari, memandangi bintang, menunjuk nunjuk pemandangan yang indah sambil berlari, dan lain sebagainya. Namun makhluk itu tak gentar mengejar mereka.

“SHINTYA!! LO HARUS DIKORBANKAN!!”

“GUA MULU! LU KEK SEKALI KALI!!!”

“GAAA!!! ELU!!”

“ELUUU!!!!”

Mereka pun tarik tarikan tangan sambil lari lari, berusaha menjebloskan satu sama lain.

“AWWW LIHAT MEREKA! MELARIKAN DIRI SAMBIL BERPEGANGAN TANGAN! MANIS SEKALI!!!!” seru Lifia.

“Gila hebat banget mereka, mereka bisa mempertahankan cinta mereka walau dikejar makhluk!” seru Bunga.

“Ini ga mungkin.” Bisik Ivan cool.

“Enak banget abis pup men.” Vito out of topic.

Bude dan Shintya masih berusaha untuk menjebloskan satu sama lain kepada makhluk itu….sampai akhirnya…..

Seseorang yang hendak menyerang Bude dan Shintya tiba-tiba kesandung ranting terus jatoh, dan makhluk itu tiba-tiba berhenti, melihat musuh mereka tersebut, dan langsung menyerangnya.

Jeritan kesakitan menggema di telinga Bude dan Shintya. Mereka menoleh, mendapati makhluk itu sedang menggigit mangsanya.

“CIE CIE! CIE CIE!!!!!” sekarang mereka berdua cari ribut.

Edo menepuk jidatnya.

“ERRRRHHHHH!!!”

*

Matahari pun mulai bersinar, menyinari dua sejoli yang kini berbaring diatas rumput, nafasnya ngos ngosan.

“Capek banget lomba lari sama kembaran lu.” Ujar Bude.

“Iya ternyata kembaran gue ada disini.” Saut Shintya balik.

Perhatian, peserta.

Karena pemenang hanya diperbolehkan hanya 1 peserta, maka salah satu dari kalian harus mengeleminasi peserta lain. Yang bertahan hiduplah pemenangnya.

Good luck.

Suara Edo menggema di telinga mereka.

“Hah….jadi…kita harus…..?

Bude menatap Shintya. Ia hanya terdiam. Shintya tersenyum lemah.

“Bunuh gue, Bud. Lo harus ngelakuin ini, lo harus bunuh gue.” Ujar Shintya lirih. Bude menatapnya bingung dan gundah dan emesh.

“Ga! Gue gamau bunuh lo!” seru Bude mantap. Shintya bernafas lega.

“Yaudah gue yang bunuh lo yak.” Shintya nyiapin pedang.

“NAJIS LU, PLIS.”

“APAAN?”

“Yaudah kita bertarung secara adil!”

“Oke! Kalo gitu…sebelum kita bertarung….”

Shintya deketin Bude, kemudian membisikkan sesuatu.

Bude nyengir.

“Ide bagus! Yuk!”


“Wan tu, wantutrifor!”

Kemudian mereka menampilkan yel yel tepok pantat mereka selama 10 menit.

Edo ngeliat mereka tidak percaya.

Tiba-tiba kepalanya pusing.

“STOP!!!! STOP!!!!!!!!!!!!!!!”

Belum selesai yel yel, mereka diem.

Karena Edo menganggap yel yel mereka adalah adegan dimana seharusnya disensor dan ga layak dipertontonkan dan diduga akan menurunkan statistik penonton, Edo menghentikan mereka.

“Ladies and Gentlemen. Inilah pemenang Hunger Games ke 141231 tahun ini.” Ujarnya datar.

Bude dan Shintya menatap satu sama lain.

Mereka tersenyum.

“Tft ya shin.”

“Tft juga bud.”

THE END


Gajelas kan?!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Tampar gue.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar